November 23, 2004

Ia dan Dia

 

Dua lelaki duduk di sofa. Tas kulit hitam digeletakkan begitu saja di karpet. Ruangan putih itu tidak lagi terasa putih, tidak ada lampu yang menyala, kecuali nyala televisi di ruang tamu. Hening, kecuali suara samar televisi dengan volume hampir minimum. Tenang, walaupun tidak terlalu, kedamaian tercipta dari kesunyian.
Dua lelaki duduk di sofa. Belum ada sepatah kata terlontar dari mulut mereka. Dia melonggarkan dasi abu-abu polos di lehernya, menyandarkan kepala, memperhatikan langit-langit. Tidak ada yang salah dengan langit-langit itu, tapi ia terus memperhatikannya, mencoba mencari sesuatu yang tidak beres.
Dua lelaki duduk di sofa. Ia diam, memperhatikan kuku tangannya yang baru kemarin dipotong pendek. Tidak ada yang salah dengan kuku-kuku itu, semuanya rapi. Tapi ia terus memperhatikannya, mencoba mencari sebuah patahan yang akan mengganggu kesempurnaan potongannya.
Dua lelaki duduk di sofa. Mereka bertatapan, memandang bola mata dari balik lensa yang minus entah berapa. Apa yang dia pikirkan? Apa yang ia pikirkan? Apakah yang dia lakukan? Apakh yang ia lakukan?
Dua lelaki duduk di sofa. Dia tersenyum, bangkit sebelum ia sempat membalas senyumnya. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan dua gelas latte hangat. Uap mengepul dari cairan itu, mengelus mukanya.
Dua lelaki duduk di sofa. Dia tersenyum, bangkit sebelum ia sempat membalas senyumnya. Ia tersenyum meski tidak tahu untuk diperlihatkan kepada siapa. Ia memilih membesarkan volume televisi hingga bisa terdengar saja. Sebuah acara televisi baru saja selesai, lalu iklan.
Satu lelaki duduk di sofa. Lalu dia datang membawa dua cangkir latte. Diletakkannya dihadapannya. Ayo minum, ajaknya ramah. Senyum kecil tersungging di ujung bibirnya, senyum yang walaupun tidak dia sadari sangat menawan, senyum yang telah membuat ia terpesona, senyum yang telah membuat ia jatuh cinta.
Minuman itu tidak digubrisnya. Ia mendekatinya, membelai lembut pinggangnya. Detik berikutnya bibir mereka saling memagut. Mereka terus berciuman sambil melucuti celana lawannya. Detik berikutnya lagi, mereka merasa di surga.

Dua lelaki rebah di sofa. Pakaian mereka sudah bergeletakkan di lantai. Dia memeluknya dari belakang. Latte yang belum disentuh itu sudah dingin, tapi tubuh mereka masih panas. Dia mencium lembut ubun-ubun kepalanya, terus mendekapnya lagi.
Ia tersenyum. Tubuhnya masih panas karena darah yang mendidih dibakar cinta, cinta yang terus mendekapnya erat dari belakang. Pandangannya menerawang ke depan. Hanya ada cahaya dari nyala televisi yang berusaha mengalahkan kegelapan pekat yang mengeroyoknya. Acara tadi sudah selesai. Sebuah talkshow baru saja akan dimulai.
Pembawa acara dengan penuh semangat naik ke atas panggung diiringi tepukan riuh rendah penonton.
“Selamat malam penonton di studio!
(penonton serempak: Malam!)
Dan juga anda yang menonton di rumah! Saya melihat ada keluarga bahagia di situ, selamat malam!
Laki-laki ini sok tahu..
Wah, ada juga laki-laki dan perempuan yang sedang bermesraan.. selamat malam!
(penonton dengan nada sirik: Woooo..)
..bisa lihat apa dia dari studio disana?
Lho? Saya juga melihat sepasang lelaki sedang pegangan tangan? Haha, tidak apa-apa, lanjutkan saja pegangan tangannya, dan selamat malam!
(penonton: Hahahaha!!!)
Dan pemirsa dimanapun Anda berada, topik kita untuk malam ini...”
[Blitz.] Televisi aku matikan.
“Kenapa?” Dia bertanya, suaranya lembut menenangkan.
“... “
“Apa yang kamu pikirkan?” Dia mendesak.
“...apakah kita akan terus ditertawakan seperti itu?”
“...mengapa kamu memikirkan itu?”
“Jawablah pertanyaanku.”
“Haruskah kita memedulikan mereka?”
“...”
Seterusnya ia dan dia terdiam.
Berikutnya terlontar sepatah kata dari bibirnya..
“Aku sayang kamu, Ve..”
Dari balik lengan yang menentramkan tubuhnya, ia tersenyum.

Dua lelaki rebah di sofa. Hampir tengah malam. Tas kulit hitam tergeletak di karpet, juga pakaian-pakaian mereka. Gelas berisi latte sudah hampir kosong. Tidak ada cahaya selain terang bulan yang menyembul dari balik tirai jendela. Hening, tidak ada suara.
Dua lelaki rebah di sofa. Keheningan dan kegelapan pekat menyelimuti mereka berdua. Biarlah mereka tidur malam ini untuk melanjutkan kehidupan seperti biasa besok pagi, tanpa perlu ada yang tahu dengan siapa mereka tidur malam tadi, kecuali mereka sendiri.


<< Home






November 19, 2004

Papa, dan Secangkir Teh Manis Hangat

 

17 NOVEMBER 2004, 11.57

Ya, sebentar lagi jam dua belas malam. Sebentar lagi.
Hmmm... entah kenapa tidak terpikir apa-apa. Layar komputer masih menyala di depanku.
Hmm, apakah yang harus aku pikirkan?
...atau bolehkah kalau terus tidak terpikir apa-apa?

*tok tok* Suara ketukan di pintu kamarku.
“Mau nonton bola nggak di bawah?”
Oh, Papa.
“Iya Pa, ntar paling. Matiin aja tv-nya dulu.”
“Buka dulu, ini Papa buatin teh.”
Teh?
“Oh, iya, taruh aja di luar dulu situ.”
Hening sejenak.
*tok tok*
“Ini tehmu, nanti keburu dingin.”
? Dia saja masih berdiri di luar situ?
“Iya, iya.”

Sambil tetap duduk, aku mendorong malas kursi (yang untunglah ada rodanya) ke arah pintu, membuka kuncinya dan membiarkan pintu terbuka. Aku langsung mendorong kembali kursi ke depan komputer. Papa masuk.

“Ini tehmu, mau taruh dimana?”
“Di meja itu saja.”

Papa meletakkan secangkir teh panas di meja. Mataku menatap lekat layar komputer.
Tiba-tiba aku merasa kepalaku ditarik pelan ke samping.

“Selamat ulang tahun ya Nak.. baik-baik ya...” Dia mengelus kepalaku sebentar, lalu menciumnya di ubun-ubun. Mataku masih menatap lekat layar komputer.

Dia keluar. Tidak bisa kulihat tapi bisa terdengar dari suara pintu yang tertutup.
Aku hanya duduk diam dengan mata menatap lekat layar komputer, lama, sebelum kemudian beralih ke secangkir teh panas yang ada di meja. Kuraih, kuhirup sedikit.
Aneh rasanya kalau membayangkan Papa bisa seperti itu. Kami tidak terlalu dekat, bahkan jarang berbicara satu sama lain. Kalau dia mengantarku pergi pun tidak ada suara yang terdengar di dalam mobil kecuali suara radio atau kaset yang sedang dimainkan.
Tapi terima kasih, Pa.

<< Home