April 30, 2006

angin membawakan kata-kata yang kubisikkan dari atas bukit kepadamu..

 


Dirimu adalah utara,
dan saya adalah selatan yang jatuh cinta kepada utara...

<< Home






April 22, 2006

guilty pleasure and the sex on tv

 

Badan gua capek, suara gua abis. Semua gara-gara malam karaokean di LFM, unit film gua. Berhubung hari ini hari Kartini dan ulang tahun LFM ke-45, jadinya kita makan-makan terus karaokean.

Yo'i.

CD karaokenya ternyata mantap sekali. Isinya lagu-lagu boyband dan lagu-lagu top 40 jaman 90-an. Haha, senang rasanya nyanyi lagu N'Sync dan Westlife sambil joget-joget ga tau malu.

Guilty pleasure?

Banget.

Alah, ngapain mikirin guilty pleasure, yang penting hati senang. Bahkan Rani yang sok emo itu ikut nyanyi2 lagu Backstreet Boys kok. Iya ga Ran? Hehe.
Penutupannya aja lagu Kenangan Terindah yang dipopulerkan oleh Samsons. Kurang najis apalagi kita?

But like I said before, fuck with guilty pleasure! Kalo emang lagu mereka enak dan bisa disukai banyak orang (terbukti dengan jadi hits), kenapa kita harus malu untuk ikutan suka? Ga mau dibilang ikutan mainstream? Pengennya sok unik sendiri? Dasar orang-orang munafik.

Jam 12 akhirnya pulang ke rumah. Masuk kamar, ganti baju, terus nyalain komputer, dan pindahin data dari USB ke komputer. Tadi gua menemukan banyak video clip bagus di LFM. Ada You're Beautiful - James Blunt, I'd Rather Dance With You-nya Kings Of Convenience (Erlend Oye memang oye!), beberapa Radiohead, beberapa Blur, dan juga The Blower's Daughter-nya Damien Rice. Khusus yang terakhir, video clipnya bagus sekali. Walaupun lagunya udah dari jaman kapan beredar, gua baru liat video klipnya sekrang. Sayang sekali dirusak dengan beberapa adegan film Closer yang dimasukin ke dalam klip. But that is a really damn good video.

Berhubung agak suntuk, jadi gua nyalain tv. Nggak ada acara bagus memang jam segini. Yang ada malah acara komedi nyerempet-nyerempet ke seks.

Tai.

Masa stasiun-stasiun tv swasta itu nggak punya harga diri sama sekali sih. Seks dijual. Udah ga ada bahan lagi apa? Mending talent-nya cantik, bodi oke. Ini udah jelek, sok pake swimsuit, perut buncit lagi. Oh god... sumpah nggak banget. Mual gua ngeliatnya.
Ganti channel, eh, acara serupa juga ada. Ini lebih parah. Talent-nya pake rok mini hampir sepantat, baju potongan rendah ngasih liat cleavage (a.k.a belahan dada), tapi bodi dan muka kaya babi (I really mean it, Lady, you're a goddam pig!). Mana akting ancur. Ngomong kaya anak SD yang lagi beramai-ramai baca tulisan di buku bahasa Indonesia. Parah.
Gimana Indonesia bisa maju kalo gini?

Terpaksa tv gua matiin terus nonton klip-klip yang baru didapat tadi. Mending liat si Erlend joget-joget daripada nonton tv kalo kaya gini deh...

<< Home






April 19, 2006

Wow.
Sekarang gua sedang berpikir betapa majunya dunia dengan teknologi.
Apa jadinya manusia tanpa teknologi?
Apa jadinya gua tanpa teknologi?

Misalnya, betapa komputer telah mengambil alih peran mesin tik terutama dalam dunia pengetikan tulisan, yang sayangnya tidak diikuti oleh banyak kantor kelurahan dan juga kantor polisi yang masih aja ngetik pake mesin tik.
Atau emang SDMnya yang gaptek ya?

Terus juga buat gua, arsitek, yang sangat terbantu dengan program-program 3D yang membuat gua nggak perlu susah-susah bikin maket. Bukan susah sih, males motong-motong karton dan ngelemnya lagi aja.

Dan juga teknologi flash disk (oh yeah!) menggantikan floppy disk. Tinggal bagi-bagi tugas, kerjain masing-masing, kumpul lagi dan gabungin tugasnya. Kapasitas yang lebih gede tentunya bikin kerjaan kelompok jadi bertambah lancar. Sekarang jadi bisa bawa-bawa file digital foto dan teman-temannya cukup dengan sebuah flash disk. Coba bayangin kalo masih make disket: butuh berapa disket untuk bawa-bawa file digital 100MB?

Internet bikin jarak jadi nggak berarti. Coba juga lihat ponsel yang udah bikin kantor pos bangkrut. Kaya lagunya President of The USA, Video Kills The Radio Star. So does the cellphone kills the postal service.

Ngomong-ngomong Postal Service, gua sekarang masih tergila-gila dengarin Postal Service. Ben Gibbard brengsek, nggak di Death Cab For Cutie, nggak Postal Service, bagus semua. Dasar jenius. Apalagi Iqbal teman gua yang tukang download lagu baru aja ngedownload Postal Service live di radio. Nama albumnya (nggak jelas juga sih itu jadi album atau bukan) The Morning Eclectic. Ada wawancaranya lagi. Abis dengerin interview mereka gua jadi merasa lagu mereka jadi punya makna yang dalem juga. Padahal lagunya masih sama dengan lagu yang gua dengerin tahun kemaren.

Kok malah jadi ngomongin lagu? Tapi nggak apa-apalah. Gua masih mendengarkan Mew, dengan She Came Home For Christmas. Terus juga lagi nyari lagu-lagu band indie dalam negeri. Homogenic sama The Upstairs bagus juga ternyata. Bisa membuat badan bergoyang a-go-go aneh kaya orang kesurupan. Haha, tapi gua menikmati juga, meskipun temen-temen gua bilang gua menjijikkan dan kaya orang bego...


<< Home






April 15, 2006





"...the image of you has been burned into my eyes..."

~ Romantic Purple by The Milo ~


Despite of the band's great music, which is really tranquilize me, I simply love the song because of that lyric.
I really love it, I mean it.

[And even when I close my eyes now,
I can se you standing there,
watching in front of me,
still...]




<< Home






April 12, 2006

Dan Rasa Suntuk Melanda...

 




Jadi perasaan ini sudah seminggu saya rasakan. Seminggu saya berada dalam keadaan suntuk, nyaris tidak tau lagi harus melakukan apa dan merasakan apa. Saya juga tidak tahu kenapa, rasanya setiap hari saya lalui dengan perasaan lelah dan bosan. Ya iyalah, namanya juga lagi suntuk.


Untung ada tugas kuliah. Pengumpulan. Bikin apartemen. Fiktif sih. Namanya juga kuliah.
Jadinya perhatian saya cukup tersita untuk pengumpulan ini. Bikin denah 2D sampai bikin model 3D. Hingga akhirnya tugas selesai, dan harus presentasi. Presentasi sempat dibantai. Tapi dapat hasil yang terbaik. Tapi saya tidak terlalu bangga dengan itu.
Apa gara-gara suntuk itu ya?

Tugas selesai, saya jadi tidak ada pelarian lagi. Jadinya suntuk lagi. Pelarian lain adalah main bola bersama teman-teman setiap sore, tapi itu juga tidak membantu banyak. Main bola paling lama cuma dua jam. Jadi saya cuma melarikan diri selama dua jam. Dan kemudian saya suntuk kembali.

Gila, sampai pada suatu sore akhirnya saya berada di ruang santai LFM dan tidak ada hal yang bisa saya lakukan. Main bola malas. Nonton DVD, sedang tidak berselera sekarang ini. Walaupun saya sempat menonton lagi A Clockwork Orange-nya Kubrick dua hari yang lalu. Tapi untuk menonton film lain malas rasanya. Ah, saya malah jadi ingin nonton Trainspotting lagi. Salah satu film terbaik, film the best versi saya. Tapi kok jadi malas juga ya?

Ingin rasanya saya ngeband lagi. Tapi semua tawaran manggung lagi ditolak berhubung ini musim ujian. Anak-anak (band) yang lain semuanya ujian. Tapi semua mata kuliah yang saya ambil tidak ada ujian. Jadinya saya tidak ada beban. Jadinya saya merasa suntuk kembali.

Jadinya saya mencoba membuat pelarian baru, bikin film. Dimulai dengan skenario. Baru adegan sembilan tapi tiba-tiba saya jadi tidak bisa berpikir lagi. Stuck. Mentok. Akhirnya komputer saya matikan, lampu saya padamkan, dan saya berbaring di ranjang dengan mata terbuka. Mencoba melihat ke langit-langit tanpa terlihat apa-apa. Gelap gulita di atas sana. Dan saya gundah gulana di bawah sini.


Saya mencoba memejamkan mata. Ayo tidur, ayo tidur. Tiga puluh menit berlalu tanpa sedikitpun saya merasa ngantuk. Atau saya harus mencoba menghitung domba seperti Mr. Bean sampai tertidur.

Hmm, saya harus memikirkan sesuatu untuk dikerjakan besok. Kalau tidak saya bakal tetap merasa suntuk seperti ini lagi...









<< Home