August 29, 2006





ENCORE PREMIERE ISSUE!!!
FULLY LOADED WITH HOT ISSUE:
the s.i.g.i.t,sore,edson,indiefest,
pota,thusrday riot,
sari white shoes and the couples company,
soleh solihun, dina homogenic
ONLY IDR 10.000
Get it at Local Distro, Campus, Music Gigs!
kesulitan mendapatkan ENCORE MAGAZINE?
contact this blog or encore.magz@gmail.com
SUPPORT YOUR LOCAL INDIE MAGAZINE!


Disuruh Cito taro di blog buat promosi, biar orang2 pada beli. Jadi kalian semua, beli ya!

PS: Majalahnya lumayan bagus kok, membuat saya mengerti tentang musik indie di Indonesia yang sangat susah nyari infonya...
So, people, don't just stand there, buy it!

<< Home






August 16, 2006

"We do not know what happened to the people, they are always changing. Even special persons that we thought to be the same they just changed. Just only memories stay the same. Those memories we left behind. And it would be precious if those memories was the real and true, not just a fake not know what happened to the people, they are always changing. Even special persons that we thought to be the same they just changed. Just only memories stay the same. Those memories we left behind. And it would be precious if those memories was the real and true, not just a fake."

It's the last message from someone I knew, but this person had just had this terrible accident and died accidentally.
Such a nice words, I think, and I want it to tell it to you, yes, you who just read the paragraphs.
For me, I still can't write such good words; no words come out from my mind...

<< Home






August 04, 2006

Tiga.
Hal yang cukup membuat saya heran adalah seringnya saya dijadikan pembicara dengan tema: IKLIM PERFILMAN INDEPENDEN DI BANDUNG. Mungkin gara-gara jadi filmmaker dan ikutan unit kegiatan di kampus yang bernama Liga Film Mahasiswa. Dan beberapa hari yang lalu, beberapa hari setelah suara saya kembali lagi (yang terjadi beberapa hari setelah suara saya hilang), saya menjadi pembicara lagi dengan topik yang itu-itu lagi.

Aduh, entah kenapa malas rasanya menilai-nilai orang lain, dalam hal ini para filmmaker di Bandung dan sekitarnya. Toh, pada akhirnya penilaian dan pendapat saya tidak berarti apa-apa. Paling juga untuk sekadar memberi informasi dari orang yang tidak tahu apa-apa menjadi tahu apa. Tapi belum hingga ke taraf membuat orang lain terdorong untuk terjun dan berkarya di dalam dunia perfilman.

Tapi memang sungguh tidak mengenakkan hati menjadi pembicara, setiap kata yang saya keluarkan harus mempunyai alasan yang kuat dan logis. Padahal ingin rasanya kalau ditanya,

"Menurut Anda, bagaimana iklim perfilman indie di Bandung?"

saya hanya ingin menjawab,

"Bagus, bagus..."
"..."

tapi mungkin pendengar tidak akan pernah puas. Mereka selalu ingin minta dijelaskan, kenapa begini, kenapa begitu. Jadilah saya menjelaskan panjang lebar walaupun malas mengulang hal yang sama pada acara yang berbeda.

Hhhh, saya tidak ingin terlalu memikirkan hal-hal yang seperti itu. Rasanya kok makin dipikirin, makin pusing jadinya. Asal bikin film saja, menurut saya itu yang paling penting. Tinggal bagaimana kita promosi film yang sudah dibikin ke masyarakat. Daripada talkshow-talkshow seperti itu, bisanya ngomong doang dan nggak perlu pakai follow-up bikin film. Sudah berasa kaya kritikus, bisanya cuma mengkritik hasil doang tanpa perlu tahu proses. Orang-orang kaya gini nih yang perlu disuntik mati.

Hmmm,
saya jadi ingat sinema-indonesia.com ...

<< Home






August 02, 2006

Dua.
Gara-gara salah beli rokok, Marlboro Light padahal harusnya Marlboro Light Menthol, dan saya masih juga masih menghabiskan rokok itu satu bungkus sampai habis padahal tenggorokan sudah tidak enak rasanya, tenggorokan saya sakit beberapa hari kemudian sampai-sampai saya jadi tidak bisa berbicara sepatah kata pun, kecuali..
"...TAI!"

Di kampus, saya jadi sasaran penertawaan teman-teman saya...

"Kenapa lo, diam aja?"
"..." (sambil melancarkan tatapan yang berarti, Oh please, suara gua ilang gitu..)
"Ayo dong, ngomong dong. Diem mulu daritadi."
"..." (yea, yea, terserah lo deh..)
"Jangan-jangan lo lagi patah hati ya? Hahahaha..."
"...TAI..."

Tuh kan, giliran ngumpatin orang, suara saya keluar. Tapi ketika saya mencoba untuk ngomong lagi,

"...."

Kejadian paling lucu adalah ketika ada telepon dari Papa, terus saya angkat. Lalu beberapa detik kemudian saya baru menyadari bahwa saya tidak bisa ngomong apa-apa.
Hhhh. Sungguh merepotkan memang jadi orang bisu. Dan untunglah saya bisa merasakan jadi orang bisu untuk beberapa hari.

Sial. Di saat-saat seperti inilah saya merasakan akibat buruk dari merokok. Salah beli rokok sih tepatnya. Atau saya harus berhenti merokok sekalian ya?

<< Home