April 20, 2007

Perjalanan Ini

 



Lagi-lagi aku berada di jalan tol Cipularang ini. Sekarang ke arah Jakarta lagi. Kembali ke kota yang dulu pernah aku benci. Pertama karena panas. Tapi kemudian alasannya berubah, karena kau ada disana. Karena kau meninggalkan aku dulu dan lebih memilih dia. Perlukah aku memikirkan alasan itu lagi kini? Entahlah, jika tidak, mungkin aku tidak akan mempunyai alasan yang lebih lagi untuk membenci Jakarta.

Yang jelas, aku tidak suka Jakarta. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan mereka, wajah-wajah lesu yang berebut mikrolet yang kulihat dari balik kaca jendela mobil. Kaca yang mengamankan aku dengan dunia. Kaca yang memisahkan aku dan mereka.
Aku mencoba membaca wajah-wajah itu satu demi satu, tapi aku tidak sanggup. Terlalu banyak emosi, terlalu banyak duka. Sukakah mereka akan hidup mereka?

Aleise menepukku pelan,
Pagi-pagi kok kamu sudah melamun, katanya.
Daripada melamun ketika presentasi nanti, lebih baik melamun sekarang, jawabku.
Ia tertawa.
Aku kan sudah disini, buat apa kamu melamunkan aku lagi?
Aku ganti tertawa.

Aleise adalah atasanku. Wanita muda, 25-26 mungkin, aku tidak berani bertanya, wanita suka menganggap laki-laki yang menanyakan umur dan berat badannya adalah laki-laki yang sangat tidak sopan. Jadi aku lebih memilih sembarang menerka daripada bertanya dengan resiko dibenci olehnya. Ia manis, pintar, wanita paling cantik di kantor dan jelas saja disukai oleh semua pria di kantor. Tapi ia suka menggodaku, entah serius atau main-main saja. Jika dia sudah seperti itu, aku hanya tersenyum, atau tertawa, atau terkadang kami berbalas goda.

Sekarang kami dalam perjalanan bertiga ke Jakarta. Satu lagi adalah Iwan, laki-laki dengan logat Jogja, late twenty, sudah bekerja lima tahun sebelum aku masuk ke kantor ini. Ia menjadi office boy, supir, apapun yang disuruhkan pasti dikerjakan. Yang aku suka dari dia adalah ia SANGAT pintar (percayalah, ia SANGAT pintar). Seringkali ia menemaniku ketika lembur, dan ia suka bercerita tentang apa saja, dengan SANGAT detail. Mulai dari sapi, Habibie, baja dan fibre, hubungan diplomatik Australia-Indonesia, minyak bumi, dan masih banyak lagi. Sayangnya ia kalau sudah mulai mengobrol susah sekali berhenti. Aku menjadi curiga, ada sebuah skenario yang kunamai sendiri: KONSPIRASI IWAN; kenapa ia bisa sepintar itu, jangan-jangan ia adalah bos yang sebenarnya tapi menyamar menjadi seorang office boy agar leluasa bergerak dan mengawasi kantor?

Hei Travolta, nanti siang kita mau makan apa? Iwan bertanya. Gara-gara ia teman sekantorku jadi suka memanggil John Travolta.
...apa ya, entahlah. Apapun jadi. Aleise mau makan apa?
Ah gampang, ntar aja kita cari di dekat2 Senayan. Kamu yang bayarin ya Joni..
...lho? Kok saya? Kan Aleise yang jadi bos.
Kan kamu kalah taruhan waktu kita ke Jakarta kemarin.
Taruhan yang mana? kata Iwan.
Ah! Sial! Dasar bule brengsek, dia minta no hp kamu ya?
Iya dong, haha. Memang susah jadi cewe cakep, seksi lagi.
Ih, najis.
Haha, iya, najis. Terus kamu kasih ke dia?
Nggaklah, aku kasih aja no entah siapa. Hihi.
Wah, sayang tuh Mbak, bule kaya gitu kan banyak duitnya.
Emang kamu tau darimana Wan? Pernah jalan sama cowo bule ya?
Belum sih, tapi saya tau kalo itunya pasti gede.
Iwan dan Aleise tertawa. Aku juga.

Mobil terus berjalan. Aku menikmati pemandangan Cipularang tanpa pernah merasa bosan. Bagus sekali, setiap lekukan bukit, awan biru dan pegunungan yang membentang di kejauhan, membuat aku merasa tenang. Tinggal sebentar lagi hingga aku menyapa..

Itu tuh pohon kesayangan kamu, Joni, kata Aleise.
Oh ya, itu Frache, di sebelah sananya itu Mille.
Pohon pinus aja kok dikasih nama aneh-aneh..
Ih, jangan sirik dong Wan, daripada kamu. Chiko dikasih Whiskas, sendirinya makan di warteg. Masak mahalan makanan kucingnya daripada orangnya..

Semua tertawa.

Berapa lama lagi nih sampai Wan? Jangan sampai telat ya, kata Aleise.
Tenang aja Mbak, bisalah sampai jam 9.
Ntar pulangnya ingetin mampir di QB ya Wan, saya mau liat-liat buku dulu..
Buku yang dari saya kemarin sudah selesai kamu baca belum?
Ya belumlah, Leise, ngasihnya aja baru dua hari yang lalu. Gimana pula bisa selesai kalau desain saya aja terus kamu revisi?
Haha, bukan begitu, saya suka desain kamu kok. Tapi mau gimana lagi, klien itu banyak maunya.
Iya, klien tolol, masa direvisi lagi jadinya sama aja kaya sebelum revisi.
Plin-plan.
Bego.
Banyak maunya.
Banyak begonya.
Super-idiot.
Sok modern.
Kapitalis.
Hahaha.

Aku mengeluarkan headphone besar kesayangan dari tas.
Lho Travolta, sudah mulai ritualnya? Cepet amat.
Oh, ini sih gara2 kurang tidur kemarin, pengen tidur2an aja dulu. Jangan ganggu ya..
Kalo aku yang ganggu kamu gimana? Aleise mulai menggoda lagi.
Aku melotot. Aleise tertawa. Iwan tertawa.
Kamu sih Leise, pake acara ngajakin saya ke Jakarta cuma demi bule-bule itu. Mending ada cewenya biar saya agak semangat ngejelasinnya.
Yah, mau gimana lagi Jon, di kantor kita kan yang bahasa Inggrisnya paling bagus itu kamu.
Huh, salah masuk kantor..
Hihi.

Aku memasangkan headphone di kepala, mengambil bantal yang selalu Aleise bawa kalau naik mobil ke Jakarta, lalu melihat keluar jendela. Ritual untuk menenangkan diri. Memakai headphone, menyetel lagu keras-keras.

Frasche dan Mille sudah lewat sejak tadi. Aku memandang sekeliling, berharap ada sesuatu yang tidak biasa yang menarik mata. Tapi tidak ada. Cipularang pagi ini terlihat biasa saja.
Aku memejamkan mata, mencoba tidur, sambil mendengar samar entah Aleise dan Iwan berkata apa, hingga aku tertidur...


<< Home






April 04, 2007

Surat dari Olivia

 


Joni,

aku sadar, saat ini kau sedang mencoba melangkah dari kehidupanku.
Aku tak akan menahanmu, karena aku juga sedang berusaha memperbaiki kehidupanku sendiri.
Aku tak tahu,
apa alasanmu yang memilih untuk melangkah.
Mungkin karena kau memikirkan kebaikanku?
Haha. Jika ya, maka aku berterima kasih.
Atau mungkin kau memang terbiasa berkelana memikat hati yang terpesona akan auramu?
Entahlah, kurasa aku tak akan pernah mengenalmu cukup baik untuk mengerti cara berpikirmu itu.

Yang jelas, aku tak akan mengganggumu lagi. (dan aku akan berusaha tak terganggu olehmu lagi)
Aku hanya tak ingin cerita ini berakhir begitu saja tanpa kata-kata penutup.
Karena yang demikian itu sama sekali tak ada etika..
Paling tidak,
setelah ini aku tak harus membuang pandangan jika harus bertatap mata denganmu lagi. Karena aku tahu semuanya telah usai.

Tak usah kau risau, tak ada sakit hati dalam hal ini. Aku memandangnya sebagai suatu pertemuan dua manusia.
Dan tiap pertemuan pasti ada perpisahannya. Itu biasa.
Dan aku cukup bersyukur untuk pernah mengenalmu.
Karena tanpa sadar, setelah mengenalmu aku banyak berpikir kembali akan detail-detail kecil yang pernah aku lupakan dan melihat kembali segala sesuatu dari sudut pandang yang baru.
Kau adalah pribadi yang unik, sekaligus sebuah lubang hitam yang tak akan pernah aku mengerti.
Dan aku tak ingin berusaha untuk mengerti.

Yep,
Aku tak akan membiarkan surat ini lebih panjang lagi. Karena akan membosankan dan aku tau kau benci hal-hal yang datar dan overrated.
Sudahlah.
Selamat jalan. aku harap kamu temukan apa yang kamu inginkan.


Olivia

* * *


Rokok itu masih menyala di sela jari. Kedua bola mata itu membaca surat itu sekali lagi. Bibir itu menghembuskan asap rokok, untuk kemudian tersenyum kembali.

...Terima kasih, Olivia, karena sudah berusaha mengerti.



<< Home