August 18, 2004

Sebuah Puisi...

 

Berceritalah cintaku bukakan tubuhmu di atas sofa ini
Mengapa engkau selalu berangkat dari kelam ke kelam
dari kecemasan sampai ke istirahat-dalam-kecemasan?

<< Home






August 05, 2004

Kepulangan

 

Aku baru tiba di stasiun setengah jam sebelum kereta berangkat. Walaupun begitu, aku masih saja merasa cemas ketinggalan kereta, takut kalau saja jamku yang terlalu lambat meskipun aku yakin waktu yang ada disitu sudah sama dengan waktu nasional versi RCTI yang biasa diputar pada waktu acara Nuansa Pagi.
“Baik-baik ya di Bandung, Tuhan memberkati,”
Tante mencium pipiku.
“Iya Tante, aku langsung naik saja, sebentar lagi berangkat keretanya.”
“Baik-baik ya, Na!” kata Amelia.
Aku hanya memandangnya lekat, lalu tersenyum.
Aku berbalik dan menapaki tangga. Dari atas masih bisa kulihat mereka mencoba mencari-cari dimana aku berada diantara tubuh orang-orang ini. Sayangnya mereka tidak bisa menemukanku.
Selamat tinggal, kalian bertiga.

* * *

Kuperiksa lagi tiketku dengan teliti.
Gerbong satu, ini dia. Kursi... 6D. D? Sebelah jendela lagi rupanya.
Aku berjalan menuju kursi nomor 6D seperti yang tercetak di tiket. Kunaikkan dulu barang-barang bawaanku ke tempat bagasi di atas kursi lalu duduk.
Huff, panas sekali.
Aku meletakkan backpack model army itu ke bawah kursiku dan mengeluarkan botol Aqua dari dalamnya lalu melepas dahaga dengan beberapa teguk air.
Hmm... sepertinya masih setengah jam lagi, kalau jam handphone ini tidak salah. Kalau tidak salah berarti benar, tapi apa iya penanda waktu ini benar? Siapa tau benar versi stasiun ini lain lagi.
Aku ingin turun sebentar membeli majalah FHM. Foto model-model dalam balutan lingerie itu benar-benar adalah foto yang sempurna, penuh dengan racun yang menebarkan pesona. Aku tidak yakin apakah aku bisa menghasilkan foto-foto seperti itu yang tetap menyimpan cita rasanya tersendiri, sebuah kelas yang sangat jauh di atas foto model dengan bikini yang ada di tabloid-tabloid murahan itu.
Ah sudahlah, lagipula kiosnya jauh. Malas aku turun-naik bolak-balik kios-kereta.
Aku duduk saja di dalam. Kursi di sebelahku masih kosong. Entah siapa orangnya, tapi kuharap dia berpenampilan baik-baik agar paling tidak aku tidak merasa tidak betah disebelahnya.
Aku melihat ke luar jendela. Orang banyak lagi duduk, entah menunggu, ditunggu, menunggu dan ditunggu, atau hanya sekadar duduk.
“Iya, disini,” suara seorang wanita datang dari kananku.
Aku menoleh.
Ia duduk di sebelahku. Kuduga usianya sepantaran denganku kurang lebih. Seorang lelaki meletakkan tasnya di tempat bagasi. Mungkin pacarnya, walau lebih kelihatan sebagai adiknya. Mereka lalu keluar lagi.
Ah biarlah, biarkan pasangan itu bermain cinta dengan perasaan mereka sendiri, perasaan sayang melepas seseorang pergi dari sisi.
...
Kenapa kau tidak datang? Apakah karena kau tidak ingin melihatku pergi, atau karena kau tidak bisa saja?
Aku mengeluarkan dua buku Seno dari dalam tasku. Yup, kalian berdualah bacaanku selama tiga jam kedepan. Kuselipkan di jaring-jaring yang sepertinya memang tempat majalah yang menempel di belakang kursi depanku. Kudiamkan saja mereka berdua, aku tidak ingin membaca mereka sekarang. Pandangan mataku tertuju lagi pada orang-orang diluar kereta.
Apa yang kalian rasakan? Apakah juga kalian takut kehilangan?
Baru kali ini aku merasa sayang akan meninggalkan kota yang tidak begitu aku sukai ini. Mengapa aku harus merasa seperti itu?
Lalu aku mengeluarkan hpku, meng-sms-mu.

* * *

Hp itu tetap tergenggam di tangan kiriku.
Aku menunggu balasan darimu tapi tidak ada apa-apa. Tidak ada tulisan NEW MESSAGE yang muncul.

Ah sudahlah, mungkin kau sedang tidur.
Pengumuman kereta berangkat bergema lagi dari speaker-speaker yang tergantung di tiang-tiang stasiun. Sepertinya kali ini kereta benar-benar akan berangkat.
Aku terus memandang hpku.
Wanita tadi melangkah masuk.
Aku terus memandang hpku.
Wanita itu duduk di sebelahku.
Badan kereta mulai bergetar.
Aku terus memandang hpku.

...
Kereta mulai bergerak maju. Wanita itu melambaikan tangannya keluar.
Aku menoleh keluar, ke arah lambaian tangannya.
Laki-laki itu berdiri di luar jendelaku, balas melambai juga.
...
Aku memandang hpku lagi. Kutekan tombol redial.
Tapi sebelum aku melakukannya, hp itu bergetar.
Di layarnya muncul namamu, di layar biru itu.

* * *

“Aku sayang kamu.”
“Aku juga sayang kamu.”
“Daah Sayang...”
”Dah juga Sayang.”
“Dah...”
“Dah..”
Klik.
Kau putuskan sambungan telepon itu setelah entah beberapa belas kali kata “Dah...” yang keluar dari bibir kita masing-masing.
Aku memandang hpku.
Masih hangat. Sehangat energi listrik yang berubah menjadi panas.
Wanita disebelahku menyalakan discman lalu mendengarkannya.
Aku tidak lagi memandang hpku, ia sudah berada di saku celana kiri.
Aku memandang keluar jendela. Lalu bersandar di kursi.
Lalu memejamkan mata.
...
Aku tersenyum, ada kau disana.

Gambir, Rabu, 28 Juli 2004
14.15

<< Home






August 04, 2004

Di Bawah Kelamnya Senja Jakarta, Aku Tiba

 

Kamis, 22 Juli 2004
Gambir, 05.25 pm

Gedung-gedung menjulang tinggi. Aku duduk diam mengamati mereka satu persatu bergerak dari depan ke belakang dari jendela. Gerakannya cepat sekali, ketika satu gedung telah terlewat ke belakang, mataku ganti memilih gedung lain untuk dinikmati.
Inikah Jakarta kota yang kaucinta?
Cahaya senja mengintip malu-malu dari balik salah satu gedung. Kedua kali aku memperhatikannya baru aku menyadai warnanya... merah jambu?
Indah sekali, apakah kau juga memandangi matahari senja yang sama yang sedang kupandangi ini? Rona jingga memancar di angkasa, bercampur dengan kelabunya langit Jakarta. Selalu saja begitu setiap aku tiba, mungkin karena aku selalu berangkat siang karena susah bangun pagi-pagi.
Gedung-gedung bergerak melambat, dan semakin lama tambah semakin lambat, lalu berhenti. Di tempat ini hampir tidak ada sinar senja lagi, atapnya tertutup. Hanya sedikit saja yang berhasil lolos muncul dari jendela-jendela stasiun yang memang bolong.
Akhirnya aku tiba, di bawah kelamnya senja Jakarta.
Keretaku telah berhenti sepenuhnya. Para portir masuk menawarkan jasa angkut barang untuk penumpang yang keluar. Aku masih duduk menikmati pemandangan ini. Buat apa buru-buru, toh pintu keluarnya cuma dua, depan dan belakang, dan itupun sangat penuh dengan penumpang-penumpang keluar dan portir-portir masuk.
Beberapa menit kemudian kugendong tas dan bawaanku lalu keluar. Tidak kuacuhkan portir-portir yang mencoba menawarkan bantuan. Semuanya masih bisa kubawa sendiri, walaupun aku membawa sebuah tas gendong di punggung, tas selempang yang lumayan penuh, plastik berisi empat kotak pisang molen buat oleh-oleh Tante di tangan kiri, dan plastik hadiah ulang tahunmu di tangan kanan. Di luar, aku berjalan menapaki tangga turun, menuju pintu keluar Stasiun Gambir.
Uugh, kenapa aku mau merasakan udara ini lagi?
[Karena kamu tentu saja]
Kuberhenti di selasar depan, menoleh-noleh ke kiri dan kanan sambil berjinjit, agar lebih kelihatan.
Di mana mereka?
Jauh di sebelah kiri, aku melihat Tante dan Amel berlari-lari kecil.
Dasar, masih saja suka ngaret.
Aku berjalan ke arah mereka. Jarak kami masih sepuluh meter ketika mereka berteriak sambil ketawa-tawa,
“Eh, itu Ona!”
saat baru menyadari kehadiranku akibat penampilan yang menjadi jauh berbeda.
Tiga tahun sebenarnya singkat, tapi aku merasa sudah sepuluh tahun tidak bertemu mereka.
Kata mereka:
“Kamu tinggi sekali.”
“Udah nggak jerawatan lagi.”
“Tambah cakep.”
Yeah.
Aku hanya tersenyum, mencium pipi Amel, lalu cium pipi kanan dan kiri Tante.
“Tante tambah kurus.”
“Oh ya? Masa? Padahal Tante ga pernah olahraga kaya Mama kamu, haha.”
Tante sedikit tersanjung sepertinya.
...maksudku bukan begitu, Tante, aku kasihan melihatmu. Membesarkan dua anak seorang diri tidaklah menyenangkan, tapi kau selalu mencoba bersikap tegar dan pasrah kepada Tuhan.
Aku melebarkan senyumku.
“Yuk kita ke mobil, “ kata Tante.
Aku berjalan mengikuti mereka berdua dari belakang.

* * *

Jalan raya, 06.01 pm

“Ini sekarang dimana?”
“Sekarang kita lagi mau sampai di jembatan Tomang.”
“Oh...”
Bukankah rumahmu di Tomang? Saat ini kita dekat sekali walaupun masih jauh.
Tante terus mengoceh tentang Andrew dan Amelia yang keduanya berkuliah di Trisakti. Kata-kata itu hanya lewat begitu saja di kepalaku. Perhatianku hanya tertuju pada jalan yang sebentar lagi akan berubah dari senja menjadi malam.
Aku tidak mengerti betapa begitu mencintainya kau dengan kota ini..
Bagiku, yang bisa kurasakan hanyalah... emosi.
Jalanan macet, orang-orang pada pulang kerja, mobil kami merayap di jalan panjang entah dimana ujungnya.
Tidakkah kaurasakan kota ini sangat panas, karena emosi? Amarah, frustasi, cemburu, kesal, kecewa, putus asa, semua emosi negatif itu terlalu banyak berkumpul disini, Sayang.
Para ahli mungkin bilang kalau panas bisa membuat orang emosi. Tapi aku menolaknya mentah-mentah. Aku bisa merasakan kalau kota ini panas karena emosi. Entah kenapa aku bisa merasakannya.
Kamu terlalu terbuai dengan gedung-gedung yang indah itu, Sayang, semuanya memang bisa menerlenakan kita.
Tapi kini aku kembali lagi kesini, karenamu.
“Gimana kabar Mama di Bandung?”
Pertanyaan Tante tadi membuatku bangun dari lamunku.
“Oh, baik-baik saja, Tante.”
“Baik-baik saja ya...”
Mobil berjalan lambat. Di depan ada pembuatan jalan layang baru, pantas saja macet.
Lalu di pikiranku terbayang dirimu, masih berkata,
aku cinta Jakarta...

* * *

<< Home