March 27, 2005

Kebosanan Yang Melanda Suatu Siang

 



Hmmm... bagaimana dengan Blink 182? Tampaknya lumayan sebagai pembuka untuk membuat siang ini menjadi lebih bersemangat. Kalau ada ulasan di koran aatumajalah, mungkin begini bunyinya,

"Dan Blink 182 langsung menggebrak dengan lagu pembuka Anthem Part 2 yang langsung membuat penonton histeris dan semakin bersemangat merangsek ke depan panggung dan melakukan moshing di arena festival itu..."
Perpustakaan ini sepi pengunjung lagi. Aku jadi sedikit bosan dibuatnya. Untunglah kemarin sore Subki datang membawa adik-adiknya. Dan ibunya. Yang langusng diminta membelikan buku oleh Rizi anaknya yang paling kecil. Segera keluarlah selembar lima puluh ribuan dari dalam dompet ibu. Siapa yang senang? Anaknya senang karena dibelikan buku baru. Ibunya? Juga senang melihat anaknya yang masik TK itu senang.
Saya? Juga senang karena akhirnya ada juga yang beli buku, apalagi dari siang tadi hanya ada satu orang yang datang, itu juga hanya melihat-lihat buku yang disusun di rak. Ambil satu, baca-baca, letakkan lagi di rak, ambil yang lain, baca lagi, kembalikan lagi, begitu seterusnya. Berhubung tempat ini juga perpustakaan, saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya, bahkan memaksa dia membeli. Padahal orang itu juga bukan anggota perpustakaan, tapi untuk menciptakan image yang ramah, saya malah menyuruh dia untuk santai saja membaca sambil duduk-duduk. Eh jadinya dia malah menurut. Jadi sekarang dia duduk-duduk di tikar sambil baca buku, berdiri lagi, kembalikan buku di rak, ambil lagi yang lain, duduk lagi, dan terus sampai saya tidak peduli lagi dengan keberadaannya. Ditambah di luar hujan turun dengan derasnya. Dia jadi punya alasan untuk tidak pulang.
Ah biarlah, itu kan kejadian hari kemarin.
Sebentar dulu, saya ingin mengganti lagu, sudah terlalu bersemangat, jangan sampai terlalu bersemangat. Sesuatu yang terlalu banyak pada akhirnya hanya akan membawa keadaan menjadi lebih buruk. Bagaimana dengan Radiohead? Sudah lama saya tidak mendengar The Bends. Entah CDnya lenyap kemana.
"Setelah penampilan Blink 182, penonton kembali berteriak melihat satu-persatu personel Radiohead naik ke atas panggung. Sebentar kemudian, vokal khas Yorke sudah mengajak penonton berkelana dalam My Iron Lung!"

Huaahm.. saya masih mengantuk. Padahal sudah tidur sampai jam sebelas tadi, bangun, dan langsung pergi kesini. Tapi keadaan sepi pengunjung ini malah membuatku tambah mengantuk. Bahkan lagu-lagu ini tidak dapat mencegah serangan penyakit bosan ini.
Saya melihat buku-buku yang berbaris rapi di rak menunggu tangan-tangan untuk mengambil dan membuka halaman-halamannya. Atau sekadarmenjamahnya. Tapi siang ini belum ada.
Dan mata saya berhenti melihat ke barisan buku itu. Seorang wanita telah berdiri disitu, di depan rak buku itu, menjamah mereka satu-persatu sambil memunggungi saya di meja kasir.
Membuat saya terheran-heran darimana kamu datang dan bisa berada di depan saya tanpa pernah saya sadari kedatanganmu.

Siapa kamu?

<< Home






March 25, 2005

Pelarian

 



Ah, lagi-lagi hujan yang sama, hujan yang sama seperti kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarin kemarinnya lagi. Sementara mobil terus melaju membawaku meninggalkan kota ini, paling tidak bisa tenang dari semua urusan-urusan yang terus memusingkan kepala.
Tapi hujan ini membuat aku tidak tenang. Tidak bisa tenang. Bagaimana bisa tenang kalau sesuatu yang engkau benci terus berada di sekitarmu setiap waktu?
Wahai hujan, aku benci kepadamu!
Heh, sungguh ironis. Hujan datang di saat aku ingin tenang. Ia malah membuat hatiku semakin kacau. Seharusnya aku melihat ramalan cuaca dulu sebelum memutuskan untuk pergi dari kota ini.
Hmph, penyesalan memang selalu datang terlambat. Tidak ada gunanya sekarang, toh hujan sudah turun dan tampaknya tidak akan berhenti paling tidak untuk beberapa jam ke depan.
Apakah sebaiknya aku memutar balik mobilku saja sekarang? Tiba-tiba aku jadi berpikir. Mungkin aku bisa tiduran saja di kamar sambil tidak memikirkan apa-apa. Tiduran saja.
Tapi tidak, telepon rumah pasti akan terus berdering. Sia-sia saja mematikan hp kalau ada telepon rumah.
Kenapa aku jadi bimbang seperti ini? Bukankah pelarian ini sudah kurencanakan sejak dulu? Dan bukankah semuanya seharusnya berjalan sempurna?
Iya, sempurna, andai saja hujan ini tidak pernah turun hari ini. Andai saja..
Hmm, apakah Kau mencoba menghalang-halangiku, Pak Tua? Tidak membolehkanku kabur dari semua ini, eh? Haha, kita buktikan saja nanti. Sekarang tekadku sudah bulat, Kau pun tidak dapat menyuruhku kembali.
Karena aku tidak akan kembali. Tidak peduli hujan yang Kau turunkan ini semakin deras. Turunkan badai saja sekalian. Gempa bumikan saja jalan ini agar hancur berantakan. Tapi kalau benar kau akan melakukan itu, aku akan menghentikan mobilku dan mulai berjalan dari sini.
Hingga aku menghilang dari kota ini. Dan tak perlu melihatMu lagi.
Silakan saja Kau lakukan semua, aku tak peduli.
Tak peduli.

Hingga kau terbalikkan mobil yang kulajui ini, aku tak peduli.

<< Home






March 04, 2005

Bantal, Selimut, Ranjang, dan Handuk

 

Brak. Pintu ditutup pelan. Tas jatuh diletakkan.
Hmmm, kamar yang bagus. Tidak seluas yang waktu itu memang, tapi ranjang itu cukup menjanjikan...
Menjanjikan untuk bercinta maksudmu?
Haha, bolehlah kalau itu maumu..
Mauku? Haha, kita lihat saja nanti.
Aku mau mandi dulu kalau begitu. Udara siang ini gerah sekali. Tidak biasanya Bandung sepanas ini di siang hari. Aku menanggalkan T-shirt Gio dan menggantungnya dengan rapi di dalam lemari.
Mungkin karena orang-orang Jakarta sepertiku mulai menginvasi kota kecilmu ini? Kau duduk di kasur, mengamati ruangan dengan teliti. Satu ketidakberesan saja dan kau akan mempertanyakan itu semua. Seperti, kenapa televisi ditempatkan di pojok sana?
Yah, asal kalian cukup tahu diri dengan tidak menambah skyscraper di sana-sini. Aku membuka celana jeans dan membiarkannya tergeletak di lantai.
Apa maksudmu? Kau meraih celana itu dan melipatnya rapi ke dalam lemari ini. Seraya menambahkan, kau tidak pernah mau rapi sejak dulu.
Maksudku, jangan ubah kota Bandung kecilku menjadi kota Jakarta busukmu itu.
Haha, sebusuk-busuknya kota itu aku tetap mencintainya.
Terserah, tapi jangan coba memaksaku menyukainya.
Hei, okay, okay, aku tidak akan memaksamu. Mandi sana, basahi kepalamu, cuci otakmu dulu!
Iya, baiklah.
Pintu kamar mandi tertutup. Suara shower terdengar samar. Kau menyalakan televisi, sementara aku membasuh kelaminku biar wangi.



Acara televisinya tidak ada yang bagus ya?
Iya, tidak ada yang bagus pada jam segini.
Hhhh, aku menghela nafas panjang. Di luar hujan, hujan yang sama seperti hujan yang kemarin dan hujan yang kemarinnya lagi dan yang lebih kemarinnya lagi. Hujan yang menyebalkan. Mengacaukan semua jadwal yang sudah kuatur sejak seminggu yang lalu. Tidak akan ada permainan tenis sore ini. Hujan membatalkannya, seperti yang ia lakukan dua hari yang lalu. Indoor? Tidak, aku lebih menyukai tenis outdoor. Lebih lepas. Lebih bebas. Semua turnamen tenis grand slam berlangsung di luar ruangan. Bahkan lapangan tenis Wimbledon Open dilengkapi dengan penutup parasut yang siap-siap melindungi lapangan rumput itu ketika hujan mulai turun.
Jadi mau kemana kita hari ini?
Tidak tahu.
Oh, ayolah, masa tidak tahu lagi. Lantas buat apa kau datang jauh-jauh dari Jakarta ke sini? Untuk menghabiskan waktu hanya tiduran di kamar hotel seperti ini?
...aku tidak tahu.



Hhhh, aku menghela nafas panjang. Tubuhku terbaring telanjang tertutup selimut putih di atas ranjang putih dengan bantal yang sama putihnya pula. Bantal putih. Selimut putih. Ranjang putih. Sementara tanganku coklat.
Lampu kamar mandi menyala. Terdengar suara shower samar2 di sela suara televisi yang menayangkan acara entah apa. Kau sedang mandi. Menghilangkan sisa-sisa muntahan sperma dari tubuh dan payudaramu. Sementara dari tadi aku mengubah-ubah saluran televisi, mencoba mencari-cari acara yang layak ditonton. Tapi tidak ada. Nihil. Nol. Nol besar.
Jadinya aku menerawang saja, melihat lampu kristal yang tergantung di langit-langit. Ingin aku menyalakannya. Tapi aku lebih memilih lampu meja yang lebih redup. Lebih remang. Lebih sendu. Sambil mengingat-ingat sensasi yang baru saja terjadi antara kau dan aku.
Shower tidak berbunyi lagi. Terdengar suara handle pintu terbuka. Aku melihat ke arah pintu kamar mandi. Kamu keluar dari situ dengan tubuh terbalut handuk putih. Putih. Putih. Bantal putih. Selimut putih. Ranjang putih. Handuk putih. Dan kulitmu juga putih bersih.
Kamu melepaskan handuk itu begitu saja di atas kursi. Lalu langsung naik ke atas ranjang. Oh tidak, tidak ada permainan lagi kali ini. Kami berdua sudah cukup menikmatinya tadi.
Kamu berbaring tengkurap di atas selimut. Aku bisa melihat lekukan-lekukan kaki dan betismu tepat di sebelahku. Sementara kamu sedang meraih remote dan mengubah-ubah saluran televisi. Tidak lebih dari tiga detik setiap saluran kau lihat.
Acara televisinya tidak ada yang bagus ya? tanyamu.
Iya, tidak ada yang bagus pada jam segini, jawabku.

<< Home