December 31, 2004

Aceh?

 

Aceh katamu?
Aku tidak peduli. Terlalu banyak orang-orang yang sok peduli dengan Aceh, mencoba mencuri kesempatan tenar dengan berlomba-lomba "show off" memberikan sumbangan sebesar-besarnya untuk menunjukkan bahwa mereka "baik" karena mereka "peduli".
Aku benci orang-orang munafik seperti itu.

Aceh katamu lagi?
Aku tetap tidak peduli. Coba saja lihat semua tempat hiburan, diskotik, atau apapunlah yang lainnya. Tetap saja mereka buka dan membius semua pengunjung yang datang untuk tertawa berhura-hura. Sementara pada malam yang sama banyak yang hampir sekarat di Aceh, katamu?
Hmmph. Mereka tidak peduli. Mereka adalah para individualis, hanya memikirkan diri mereka sendiri.
Aku juga termasuk individualis, sama seperti mereka.

Aceh lagi-lagi katamu?
Akui tidak akan peduli. Mau diterjang tsunami, badai apapun, atau dibom atom sekalian, aku tidak peduli.
But I'm looking forward to this earth's armageddon.

<< Home






Nocturno

 

Sudah hampir jam satu pagi. Sudah tidak ada lagi mobil yang melewati jalan ini.
Kenapa aku disini, katamu?
Ah tidak, tidak apa-apa dan tidak kenapa-kenapa. Aku hanya sedang malas berada di rumah. Lagipula aku juga lelah tidak bisa tidur belakangan ini jadi aku memutuskan untuk berjalan kaki keluar. Mungkin angin malam ini bisa menyegarkan dan membawaku tidur ke pelukan mimpi yang liar.
Sisa rintik hujan masih saja jatuh dari awan kelabu di atas sana. Aku tidak membawa payung, jaketku tidak terlalu basah. Aku langsung berteduh di emper toko ketika hujan mulai tadi. Sekitar jam dua belas kalau tidak salah. Itu berarti hampir sejam yang lalu. Tokonya sudah tutup entah sejak jam berapa.
Tidak ada orang lalu lalang ketika aku berteduh sebentar disana. Bahkan tidak ada orang sama sekali, kecuali seorang tua yang tidur sambil meringkuk kedinginan di atas kardus bekas yang tak bisa mengalahkan dinginnya lantai keramik di bawahnya.
Kupandang ia lekat. Kotor, lusuh, rambutnya berantakan, dan banyak lubang pada bajunya yang sudah kucel itu.
Hhhh... beginilah hidup. Untung saat ini aku bukanlah kau dan kau bukanlah aku, Pak Tua..
Terus aku duduk disitu, menanti kapan hujan akan berhenti.
Setiap tetes hujan... mengingatkan aku akan setiap tetes air mataku yang jatuh untukmu.
..ya, yang jatuh untukmu.
Angin malam berhembus pelan. Air hujan mulai tampias, walaupun belum bisa mengenai aku dan si Pak Tua.
Dingin mulai menggerayangiku.
Oh hujan, cepatlah reda.

<< Home






Nocturno (bagian kedua)

 

Saat-saat menunggu hujan begini malah membuat aku mengantuk bosan.
Haha, lucu sekali. Tolong ya otakku, kalau mau mengantuk, mengantuklah di tempat yang layak tidur.
Untungnya tak berapa lama, hujan berhenti. Ya, tidak berhenti sepenuhnya sih, tetap saja ada rintik gerimis.
Ah sudahlah, aku sudah bosan menunggu.
Aku bangkit, kupandangi Pak Tua yang masih meringkuk kedinginan. Ingin aku iba, namun hatiku tidak merasakan apa-apa.
Aku berpikir untuk memberinya uang receh, tetapi kuurungkan niatku itu. Dia kan sedang tidur dan tidak mengemis sekarang, pikirku.
Mungkin lain kali saja ya, Pak Tua. Sampai jumpa, kalau kita masih akan bersua.
Huff, angin dinginnya mulai menerpa mukaku. Aku terus berjalan mengikuti jalan ini yang terus lurus dan belum tampak juga akan berakhir dimana.
..berakhir di dirimu, semoga.
Lewat tengah malam jalanan benar-benar lengang. Kakiku melangkah secara otomatis ke bagian tengah jalan agar aku sedikit merasa lapang.
Gerimis sialan ini masih saja belum berhenti. Jaketku mulai lembab. Aku menengadahkan kepala ke atas, mencoba mencari-cari awan sialan yang masih saja menurunkan hujan, mencoba memelototinya, lalu mengusirnya agar aku tidak perlu kebasahan lagi. Sia-sia, tentu saja. Semua permukaan langit masih kelabu. Awan yang manapun ia aku tak tahu.
Kepalaku terus menengadah, kakiku terus melangkah.
Angin malam berhembus dingin menantangku, membuat bibirku hampir saja kelu. Aku hentikan langkahku tepat di bawah lampu di median jalan. Cahayanya sudah redup, mungkin beberapa hari lagi dia tidak akan bisa menyala lagi.
Angin malam terus berhembus.
Aku memejamkan mata, mencoba mendengar setiap bisikan alam yang dibawanya. Semua gelap seketika...

Desiran angin malam mengalun merdu ditelingaku, tetesan hujan membasuh wajahku.
Semua gelap.. Aku memicingkan mata sedikit karena silaunya cahaya lampu redup itu.
..karena kau dengan cahaya redupmu, kegelapan tidak berhasil membunuhku...
Cahaya.. terang.. benarkah kau menyelamatkan?
Kepalaku mulai terasa pegal terus menengadah dari tadi. Aku kembali memandang ke depan dan terus berjalan lagi.
Samar kulihat dua titik cahaya, bergerak dari jauh di depanku, semakin besar, terus mendekat, terus terus mendekat, terus mendekat, melaju ke arahku.
..apakah kau akan menyelamatkanku?
Tetapi aku terus melangkah menuju ke cahaya itu..

<< Home






Selamat Hari Ibu, Semuanya

 

SANG PENYIAR RADIO

Rabu, 22 DESEMBER 2004, 8.20 PM

Sang penyiar radio duduk di kursi studionya, menatap malas tombol-tombol dengan angka-angka dengan garis-garis. Ia melepaskan headphone-nya sejenak. Kupingnya terasa gerah. Kakinya menghentak di lantai keramik yang dingin, untuk membuat sedikit putaran pada kursi tempat ia duduk.
Tubuhnya ikut berputar di atas kursi. Matanya menangkap kelebatan-kelebatan studio. Ada poster besar The Beatles, juga Coldplay dan The Cure. Semuanya dalam bingkai kayu dan digantung dengan rapi. Ada juga kursi dan sofa dan dua buah mikrofon lain disebelahnya. Tapi malam ini tidak ada orang yang duduk di situ, malam ini tidak ada wawancara, malam ini tidak ada orang lain di dalam studio ini selain dia, tidak ada siapa-siapa, hanya dia.
Di ruangan sebelah, Daru, si operator, masih sibuk menerima telepon-telepon masuk. Saat ini memang prime time. Sebagai penyiar senior yang telah terkenal, ia yang ditugaskan untuk siaran. Reputasinya sudah cukup bagus di Bandung, tapi ia tetap berencana untuk menjadi penyiar radio di Jakarta. Mungkin kalau dia betul jadi pindah, radio itu akan ditinggalkan lebih dari setengah pendengarnya. Karena itulah ia dipertahankan mati-matian untuk tidak pindah, di antaranya dengan iming-iming kenaikan gaji dan bonus yang wah.
Tiba-tiba layar handphone-nya menyala kelap-kelip...
Cih, ada lagi yang kurang kerjaan..
...lalu mati kembali.
Diambilnya handphone itu, lalu mematikannya. Selalu saja ada fans yang mencoba mengganggunya.
..huh, siapa suruh jadi terkenal...
Lagu yang sedang diputar sudah mau habis. Cepat-cepat dipakainya lagi headphone yang pas menutup semua bagian telinganya itu, sambil mencondongkan mulutnya ke mikrofon...
“Selamat malam lagi para Radioers! Masih bersama Yaka di sini, di Radio FM, radionya radio di Indonesia...”
Lalu mulutnya secara otomatis mengatakan kata-kata yang sama yang selalu diulangnya berkali-kali setiap hari di setiap malam di ruang studio ini. Lalu ia melihat ke layar komputernya, membacakan request-request yang sudah masuk...
“Selamat malam buat Icha yang lagi di jalan, minta lagu My Boo-nya Usher with Alicia Keys. Salamnya buat cowo Sagitarius aja. Wah, berarti dia ulang tahun dong malam ini, Yaka juga minta ditraktir ya bo! Hehehe.
“Ada Ivan yang minta lagu Manusia Bodoh dari Ada Band. Katanya buat Uci, aku sayang kamu dan pingin minta maaf dan nggak mau kamu pergi..”
..dasar laki-laki gombal.
“Terus ada Riona di kamar, dia request lagu Keane yang Everybody’s Changing buat dia sendiri aja..”
Ia melirik jam yang terletak di depannya. Pukul 20.33. Kalender di sampingnya menunjukkan angka 22, dengan tulisan ”Happy Mother’s Day!” kecil berwarna merah, entah siapa yang menulisnya di situ.
Ia jadi teringat akan ibunya...
“Malam Dina di SMU 11 yang minta lagu.. “
Dua tahun yang lalu ia mendapat tawaran jadi host sebuah acara di Jakarta. Kesempatan yang tidak ingin ia sia-siakan...
“Berikutnya akan Yaka puterin lagu Mama dari Spice Girls untuk Mama-Mama sedunia yang saat ini sedang merayakan Hari Ibu-nya. Mama adalah anugerah yang paling indah bagi kita semua, jadi jangan pernah bandel ya sama Mama kamu, atau juga suka ngelawan Mama kamu,.Itu tidak baik ya, jangan dicontoh.. Berbahagialah kamu yang..”
Nada bicaranya masih bersemangat. Tetapi hatinya sudah hancur sedari tadi.

SABTU, 22 DESEMBER 2002, 6.17 PM

Sabtu sore ia pergi ke Jakarta dengan mobilnya. Perjalanannya tidak terlalu jauh, mungkin ia bisa sampai dalam waktu tiga jam. Setibanya di rumah temannya di sana, ia langsung tidur. Ia takut kebiasaan terlambat bangunnya kambuh lagi besok, jadi menurutnya lebih cepat tidur itu lebih baik.
Hp-nya bergetar.
...ah, paling orang iseng lagi. Untung aku silent daritadi.
Tak digubrisnya. Ia pejamkan saja matanya, mencoba untuk tidur..
sementara aku tidur, mama kena serangan jantung.

MINGGU, 22 DESEMBER 2002, 08.37 AM

Tapi tetap saja ia terlambat bangun. Satu setengah jam lagi acaranya dimulai dan ia masih di tempat tidur.
Huh, memang susah kalau kebiasaan dibangunkan Mama terus-terusan.
Ia melihat handphonenya. Ada banyak miscall dan tiga buah sms.
Huh? Orang-orang aneh lagi?
Ternyata tidak. Semuanya dari satu nomor. Kakakknya.
Kakak?
Sms-sms itu juga berasal dari kakaknya. Isinya:
Mama masuk rumah sakit. Kena jantung lagi. Cepat pulang kesini.
Ia terdiam. Tapi tak lama terdiam. Ia segera mandi, bersiap sebentar, tidak makan, dan langsung pergi. Hatinya kalut.
..semoga Mama akan baik-baik saja.
Ia turun dari mobil. Berlari kecil, membuka pintu, dan terus melangkah.
Ia naik ke panggung. Riuh rendah suara penonton dan lampu sorot tidak membuatnya gugup. Malah menggairahkan untuk seorang eksibisiobis sejati sepertinya. Pagi itu, panggung, semua tepukan dan sanjungan penonton menjadi miliknya.

MINGGU, 22 DESEMBER 2002, 17.45 PM

Ia turun dari mobil. Berlari kecil, membuka pintu, dan terus melangkah.
Ia masuk ke dalam kamar pasien. Banyak orang di samping tempat tidur tapi tidak ada satupun yang bicara. Semua orang menoleh, semua mata menatapnya ketika ia berjalan melalui pintu ruang VIP itu. Serentak semua orang mundur beberapa langkah dari pinggir tempat tidur. Hingga cukup baginya untuk bisa melihat ibunya, tergeletak lemas di kasur dengan kakaknya yang menangis sambil memegang tangan kiri ibunya.
Ia melangkah ke sisi yang satunya lagi. Beberapa orang mundur lagi agar ia bisa berada di samping ibunya.
Ia diam tak bergerak. Ditatapnya lekat-lekat wajah yang biasa membangunkannya pagi-pagi, wajah yang biasanya memarahinya kalau pulang terlalu malam, wajah yang selalu dilihatnya setiap pagi saat pertama kali membuka mata, wajah yang kini diam dan tak bisa lagi memarahinya.
Tidak ada yang berbicara, namun ia tahu ibunya sudah tak bernyawa lagi.
Ia tatap wajah itu.
Tubuhnya dicondongkan ke depan agar ia bisa mencium wajah ibunya, hal yang tak pernah lagi ia lakukan sejak SMA.
Ia mencium dahi ibunya. Lama, sebelum bibir itu bisa terlepas lagi.
Bibirnya bergetar. Pipinya sudah basah oleh air mata.
Badannya mulai limbung. Ia peluk erat tubuh itu lalu menangis sejadi-jadinya.
Hatinya hancur berkeping-keping. Ia tahu hati itu tidak akan bisa kembali seperti dulu lagi.

<< Home






December 30, 2004

Saat Ini, Saya Tidak Sendiri...

 

Kamu tau arti dari kesendirian?
Kesepian, berteriak namun tidak ada yang mengacuhkan.
Saya dulu terbiasa dengan keadaan itu, sampai terbosan-bosan saya dibuatnya.

Tapi saat ini, saya tidak sendiri.
Saya memandang wajah kamu yang memandang wajah saya sehingga kita saling berpandang-pandangan sementara tangan kamu memeluk tubuh saya di atas kasur di dalam selimut membuat tubuh kita menjadi hangat diantara dinginnya udara yang dihembuskan benda bernama air conditioner yang bergantung di atas dinding kamarmu yang ungu membuat hatiku tenang namun jantungku berdetak-detak cepat lambat cepat lambat terus cepat lagi tak keruan ah anehlah rasanya.

Saya sangat mencintai kamu, tahukah kamu?
[mulai saat ini saya berjanji, untuk tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi]
Saya sudah mengucapkan janji untuk selalu bersama kamu, masa bodoh apa yang akan datang menemui saya nantinya atau seberapa berat itu jadinya.
Saya ingin selalu berdua saja bersama kamu.

Saya menikmati setiap detik yang berlalu, saat mata saya melihat jauh ke dalam mata hatimu, apakah yang sedang kau pikirkan saat ini?
Detik berikutnya kamu mulai bergerak ke atas tubuh saya.
Detik berikutnya bibir kita saling memagut, tubuh kita bertaut walau sudah tidak di dalam selimut. Saya menikmati setiap detik ini, saat tubuh kamu menekan tubuh saya.
Tidak ada lagi yang perlu kita pikirkan selain cinta, untuk apa memikirkan dunia kalau sudah dimabuk cinta?
Saya menikmati setiap detik ini.
Setiap detik ini, saya nikmati...

<< Home






December 26, 2004

Natal

 

Natal katamu?
Entah kenapa, aku merasa tidak ada yang spesial. Sama saja seperti hari-hari sebelumnya.
...
Ah, Tuhan, sepertinya aku telah berpaling meninggalkanmu lagi..

<< Home






December 13, 2004

Driving To Manhattan

 

Siang yang membosankan. Mobil ini terasa tak beranjak kemana-mana. Begitu juga dengan mobil-mobil yang ada di depan. Tak beranjak dari tempatnya hingga lampu hijau menyala.
Suara penyiar terdengar tiba-tiba dari balik speaker. Bla bla bla.. entah apa yang ia bicarakan. Aku sendiri sedang sibuk memperhatikan lampu merah agar segera hilang. Tapi tidak juga, lampu merah itu masih bisa bertahan di situ beberapa lama hingga aku lelah memperhatikannya.
Penyiar itu masih mengoceh juga. Seperti lagi membacakan daftar request yang sedang banyak-banyaknya.
Mataku menatap radio di mobil. Entah apa yang kupikirkan, namun aku segera menekan tombol berangka satu. Suara penyiar digantikan suara lagu.
Hmm.. Manhattan Transfers? Bukan lagu yang buruk sebenarnya untuk siang yang membosankan seperti ini. Lagu yang kutahu darimu, dan sepertinya tidak akan pernah aku tahu kalau bukan darimu.

... Let's hang on to what we've got

Don't let go, girl; we've got a lot
Got a lot of love between us
Hang on, hang on, hang on, to what we got
Dooh doot! Dooh doot! Dooh doot!

...kita sudah memiliki banyak hal, bukan? Entah kenapa lagu itu jadi membuat aku berpikir.
Apakah aku akan melepaskan semua itu jika saatnya tiba? Apakah kamu juga akan melepaskannya? Apakah kita akan melupakannya begitu saja? Atau malah membuangnya jauh-jauh?
Atau kita tetap terus menjaganya berdua?

TIIIIN!!! Klakson-klakson mobil bersahut-sahutan. Satu mobil mengklakson mobil di depannya, mobil di depannya ikut mengklakson mobil di depannya lagi, mobil di depannya lagi mengklakson mobil di depan depannya lagi, hingga suara klakson memenuhi udara di perempatan jalan itu.
Aku melihat ke depan. Sudah hijau rupanya. Mobil-mobil telah berjalan lebih dulu.
Pelan kukemudikan mobilku sementara mulutku menyanyikan lagu..

Let’s hang on to what we’ve got...

<< Home