February 22, 2005

Kepercayaan Yang Kau Buang Sia-sia

 



Terima kasih atas pengkhianatanmu terhadap kepercayaan yang telah aku berikan karena hal itu telah menyadarkanku akan betapa tidak pantasnya dirimu mendapat kepercayaan sebesar itu yang akhirnya kau campakkan begitu saja.
Kepercayaan itu sangat mahal harganya.
Dan jika kau membuangnya begitu saja kenapa aku tidak harus berterima kasih kepadamu? Karena kau menyadarkanku bahwa kau tidak pantas untuk mendapatkan kepercayaan itu lalu kenapa aku musti memberikan kepercayaanku kepadamu lagi tetapi kau lalu marah karena aku menganggapmu seorang pembohong besar tapi kukatakan kepadamu sekarang kenapa aku harus setuju dengan kemunafikanmu?


-terima kasih sebesar-besarnya buat pak putu wijaya-

<< Home






February 18, 2005

Ketidakproduktivitasan..

 

.. saya di bulan Februari disebabkan oleh raibnya komputer yang ada di rumah demi dibawa ke jakarta oleh kakak saya demi lagi pengerjaan tugas akhirnya yang akhirnya saya hanya bisa diam duduk sendiri saja sambil manyun di atas kasur sambil menatap buku-buku yang baru saja dibeli tapi entah kenapa masih tidak mau dipakai untuk membaca

<< Home






February 12, 2005

Home

 



Aku terus berjalan melewati gang panjang ini. Ramai di ujung sana. Anak-anak SD sedang bermain-main di pinggir gang. Ada yang main gundu. Ada yang mengantri beli jajanan. Ada yang dengan serunya membicarakan tentang film kartun kemarin sore. Ada yang sendirian saja duduk melihat anak yang lain bermain bola.
Hmmm, waktu istirahat mungkin. Aku jadi penasaran apa yang dulu aku lakukan ketika sedang mengalami hal yang sama.

Waktu itu aku duduk diam saja di atas dahan pohon kamboja.
Sendiri melihat anak lain bermain dari atas sana.

Lewati warung, tidak ada yang berbeda. Lagi-lagi ibu-ibu bergosip entah siapa lagi yang digosipkan hari ini. Hal yang selalu mereka lakukan ketika bertemu ibu-ibu lain waktu beli sayur buat lauk nanti siang.

Satu belokan, dan satu belokan lagi. Sampai ke rumah yang tidak terlalu tercinta. Langsung mandi saja. Tidak usah makan. Tidak terlalu nafsu makan belakangan ini. Entah kenapa. Mungkin sebaiknya aku makan saja? Ah sudahlah, terlalu mengantuk. Habis mandi langsung tidur saja,

Pintu pagar kubuka. Ah, pulang pagi lagi hari ini. Terlalu banyak kerjaan, terlalu banyak kesibukan. Mungkin semuanya harus aku lupakan sebentar untuk hari ini. Walaupun masih banyak yang belum terselesaikan.

Biasanya pintu depan tidak terkunci. Dengan penuh percaya diri tanganku menurunkan handle pintu. Tapi pintu tidak bergerak sedikit pun. Aneh. Aku mengetuk dari luar. Anjing menggonggong dari dalam. Anjing berisik itu lagi. Selalu saja begitu setiap aku pulang. Menggonggong menyebalkan. Tidak tahu apa aku juga salah satu majikan?

Pintu terbuka. Dari dalam keluar kepala Papa.

...Papa bukannya di Jakarta?
Kata dokter sudah bisa pulang kok.
...kenapa nggak bilang-bilang?
Nggak apa-apa, biar kasih surprise aja, haha.
...surprise apaan.

Aku masuk rumah. Langsung naik ke atas. Buka pintu kamar, lalu tutup lagi. Lempar tas sembarangan, gantung jaket, lalu ganti pakaian.

Sialan, pulang kok tidak bilang-bilang.

Aku memutuskan langsung tidur. Tidak ada mandi. Tidak ada makan. Tidak ada kerjaan.
Langsung menjatuhkan diri terlentang di atas kasur.

Ah, sudahlah, yang penting dia sudah pulang.

Tidak lama kemudian aku tertidur tanpa mengingat apa yang kumimpikan ketika aku terbangun kemudian.

<< Home






February 05, 2005

?

 

What the fuck is happenning with this blog?


<< Home






February 04, 2005

ANAK PANTAI

 



Aku terapung-apung terlentang di atas papan selancar sambil tiduran. Menikmati setiap jengkal sel-sel kulitku yang terbakar matahari. Tiada lagi ombak besar yang datang. Mungkin ia juga perlu istirahat sejenak. Lalu bersiap-siap memberikan serangan mendadak.
Rasanya tenang berada disini, jauh dari segala kepenatan kota yang siap menghantui ketika kau kembali.
Tanganku menjuntai ke dalam laut. Ombak-ombak kecil berkali-kali membasahi bagian belakang kepalaku. Ah, matahari pagi ini tidak terlalu terik. Cocok sekali untuk berjemur di tengah laut ini.
“Ombak datang! Gede nih!”
Aku menoleh ke belakang. Dari sana ombak besar memang bergulung-gulung.
Yeah.
Segera aku berbalik tengkurap. Tetap menoleh ke belakang memperhatikan ombak yang bersiap-siap pecah.
Ia semakin mendekatiku, aku mulai mengayuh kedua tanganku yang berada di dalam air. Terus, hingga ombak itu berhasil menangkapku dan menyeretku.
Aku terus terseret menuju ke pantai. Oke, siap-siap berdiri, satu, dua, tiga...
Hup! Aku berhasil berdiri di atas kedua kaki. Tanganku sekarang menggapai-gapai udara, mempertahankan keseimbangan.
“Woohoo!” Suara anak-anak lain terdengar dari belakang sana. Aku semakin bersemangat. Aku menyukai perasaan ini. Ketika adrenalin mulai mengalir menyebar ke seluruh pembuluh darahmu. Ketika kau berhadapan dengan alam dan kau berhasil menaklukkannya. Bukan menaklukkan, kau berhasil membuatnya menjadi sekutumu.
Ombak ini semakin besar, cocok sekali untuk dikendarai.
Tapi tidak juga. Ternyata aku salah.
Ombak ini terlalu besar. Aku kehilangan keseimbangan. Kakiku goyah.
Kemudian aku terlempar ke udara, berikut papan selancar ini juga.
Burrr... Ah, aku meneguk air asin ini lagi. Sudah yang keberapa kali sejak pagi tadi. Rasanya... asin.
Aku menggapai-gapai dalam air, mencoba terus berenang ke arah cahaya.
Huah! Lega rasanya berada di permukaan lagi.
Sial, aku gagal lagi mengendarai ombak tadi. Ombak berikutnya mungkin akan lama lagi baru datang. Aku menghela napas sajalah.
Kepalaku menoleh mencari-car, Di mana papanku? Oh, itu dia. Aku berenang ke arahnya lalu naik dan tiduran terlentang lagi, menunggu ombak besar berikutnya, menikmati setiap sel kulitku yang terbakar matahari pagi ini.


<< Home






February 03, 2005

Ombak, pt.2

 



“WOI!! Ngapain lo bengong aja di situ? Cepetan siniin bolanya!”
Hah? Aku menoleh ke mereka yang sedang memanggilku dari belakang sana.
“Iya iya, bentar. Ini ada orang aneh disini...” Aku kembali melihat ke depan...
tapi tidak ada siapa-siapa.

Lho? Kok? Ke mana perginya orang berkemeja putih yang melemparkan bola ini padaku tadi?

“Kenapa? Lo bilang apa tadi?” Mereka memanggilku lagi, kali ini dengan nada yang tidak sabaran.
Aku diam sejenak. Siapa orang tadi? Dia agak mirip denganku. Bukan, aku merasa dia adalah aku malah. Tapi orang itu lebih tua, mungkin usianya sudah dua puluhan akhir.

Ah sudahlah, mungkin cuma aku yang menghayal. Lagipula tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada ombak yang semakin ganas dan air laut yang semakin pasang. Aku mengepit bola dalam tangan kiriku. Lalu berlari perlan ke arah pantai lagi.

“Makan nih bola!” Kutendang lambung tinggi-tinggi seperti seorang kiper. Bola melambung jauh ke depan dan segera diperebutkan kembali begitu tiba di atas pasir. Aku hanya melihat mereka dari belakang sini, masih merasa bingung dengan kejadian yang barusan.

“Kenapa lo tadi?”
“Nggak tau. Kayanya ada orang di sana.”

”Orang yang mana?”
“Lo Liat kan, orang yang ngasih gua bola ini tadi?”

”Eh dodol, daritadi mana ada orang di situ! Liat aja cuma kita yang ada di pantai ini.”
“Iya gitu? Jadi siapa dong yang ngelemparin bola itu ke gua lagi tadi?”

”Lo berhalusinasi aja kali. Paling ombak, atau salah satu suruhannya si ratu laut selatan itu, haha...”
”Hmph, yeah right..”

Ah sudahlah, buat apa kupikirkan.
Lagipula bola sudah datang ke arahku. Kurebut ia dari orang lain, lalu kugiring di tepi pantai, jauh, sebelum aku ditackle dari samping dan malah jatuh tercebur ke air.
Puih, asin. Jelaslah, air macam apa yang kau harapkan di sini? Air rasa gula?

Bola terus dimainkan. Sementara entah kenapa aku jadi malas bermain bola lagi.
Jadinya aku tiduran sebentar di pinggir pantai itu. Air kadang-kadang terbawa ombak sedikit membasahi tubuhku.

Langit mendung, tidak ada sunset jingga keunguan sok dramatis sore ini.

[senja yang muram, semuram hatiku]

Kupejamkan mata. Terdengar suara anak-anak bermain bola. Aku masih tidak yakin dengan apa yang kulihat tadi. Benarkah aku melihat diriku sendiri?

Aku menajamkan pendengaranku lagi. Suara mereka terdengar samar. Suara angin dan ombak yang menghantam batu karang masuk telingaku dan berkelana dalam otakku.

[andai saja kau ada di sini, Diva,
akan kubacakan semua puisi cinta yang ada di bumi ini
untukmu,
hanya untukmu...]

buurrr... suara apa itu?
Aku terduduk. Suara yang barusan bukan seperti ombak yang menghantam karang. Ia menghantam sesuatu, tapi bukan karang.
Aku menoleh-noleh mencari-cari kira-kira darimana sumber suara yang kudengar tadi tapi tak kutemukan jua.
...mungkin hanya perasaanku saja.

“Woi! Pulang yuk!” Anak yang terakhir di pantai itu mengajakku pergi. Rupanya anak-anak yang lain sudah mulai kembali ke bungalow satu persatu.
“...okay.”


Aku masih duduk sebentar. Ada benda yang mengapung ke arahku. Benda itu adalah... dasi?

[mirip dengan dasi orang tadi]

"Hey, mau cabut nggak?" Dia berkata lagi.

Dasi itu terbawa ombak pelan, pelan, tapi pasti menuju ke arahku. Ia terhanyut hingga ke darat lalu diam disitu.

? Benar-benar dasi?

Aku sendiri tidak yakin, karena detik berikutnya aku mengedipkan mata, ketika kulihat kembali dasi itu sudah tidak ada.

"...yuk."



<< Home






Anak Pantai

 



“WOI!! Ngapain lo bengong aja di situ? Cepetan siniin bolanya!”
Hah? Aku menoleh ke mereka yang sedang memanggilku dari belakang sana.
“Iya iya, bentar. Ini ada orang aneh disini...” Aku kembali melihat ke depan...
tapi tidak ada siapa-siapa.

Lho? Kok? Ke mana perginya orang berkemeja putih yang melemparkan bola ini padaku tadi?

“Kenapa? Lo bilang apa tadi?” Mereka memanggilku lagi, kali ini dengan nada yang tidak sabaran.
Aku diam sejenak. Siapa orang tadi? Dia agak mirip denganku. Bukan, aku merasa dia adalah aku malah. Tapi orang itu lebih tua, mungkin usianya sudah dua puluhan akhir.

Ah sudahlah, mungkin cuma aku yang menghayal. Lagipula tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada ombak yang semakin ganas dan air laut yang semakin pasang. Aku mengepit bola dalam tangan kiriku. Lalu berlari perlan ke arah pantai lagi.

“Makan nih bola!” Kutendang lambung tinggi-tinggi seperti seorang kiper. Bola melambung jauh ke depan dan segera diperebutkan kembali begitu tiba di atas pasir. Aku hanya melihat mereka dari belakang sini, masih merasa bingung dengan kejadian yang barusan.

“Kenapa lo tadi?”
“Nggak tau. Kayanya ada orang di sana.”

”Orang yang mana?”
“Lo Liat kan, orang yang ngasih gua bola ini tadi?”

”Eh dodol, daritadi mana ada orang di situ! Liat aja cuma kita yang ada di pantai ini.”
“Iya gitu? Jadi siapa dong yang ngelemparin bola itu ke gua lagi tadi?”

”Lo berhalusinasi aja kali. Paling ombak, atau salah satu suruhannya si ratu laut selatan itu, haha...”
”Hmph, yeah right..”

Ah sudahlah, buat apa kupikirkan.
Lagipula bola sudah datang ke arahku. Kurebut ia dari orang lain, lalu kugiring di tepi pantai, jauh, sebelum aku ditackle dari samping dan malah jatuh tercebur ke air.
Puih, asin. Jelaslah, air macam apa yang kau harapkan di sini? Air rasa gula?

Bola terus dimainkan. Sementara entah kenapa aku jadi malas bermain bola lagi.
Jadinya aku tiduran sebentar di pinggir pantai itu. Air kadang-kadang terbawa ombak sedikit membasahi tubuhku.

Langit mendung, tidak ada sunset jingga keunguan sok dramatis sore ini.

[senja yang muram, semuram hatiku]

Kupejamkan mata. Terdengar suara anak-anak bermain bola. Aku masih tidak yakin dengan apa yang kulihat tadi. Benarkah aku melihat diriku sendiri?

Aku menajamkan pendengaranku lagi. Suara mereka terdengar samar. Suara angin dan ombak yang menghantam batu karang masuk telingaku dan berkelana dalam otakku.

[andai saja kau ada di sini, Diva,
akan kubacakan semua puisi cinta yang ada di bumi ini
untukmu,
hanya untukmu...]

buurrr... suara apa itu?
Aku terduduk. Suara yang barusan bukan seperti ombak yang menghantam karang. Ia menghantam sesuatu, tapi bukan karang.
Aku menoleh-noleh mencari-cari kira-kira darimana sumber suara yang kudengar tadi tapi tak kutemukan jua.
...mungkin hanya perasaanku saja.

“Woi! Pulang yuk!” Anak yang terakhir di pantai itu mengajakku pergi. Rupanya anak-anak yang lain sudah mulai kembali ke bungalow satu persatu.
“...okay.”


Aku masih duduk sebentar. Ada benda yang mengapung ke arahku. Benda itu adalah... dasi?

[mirip dengan dasi orang tadi]

"Hey, mau cabut nggak?" Dia berkata lagi.

Dasi itu terbawa ombak pelan, pelan, tapi pasti menuju ke arahku. Ia terhanyut hingga ke darat lalu diam disitu.

? Benar-benar dasi?

Aku sendiri tidak yakin, karena detik berikutnya aku mengedipkan mata, ketika kulihat kembali dasi itu sudah tidak ada.

"...yuk."



<< Home






February 02, 2005

Ombak

 



Aku berdiri di pinggir pantai. Senja ini terlalu muram, tidak ada pemandangan matahari tenggelam seperti yang kuimpikan.

Sia-siakah aku pergi kesini?

Tidak. Aku belum pernah lagi pergi ke pantai sejak aku masih remaja dulu. Kuingat sekali tempat ini. Kenanganlah yang membawaku kembali ke pantai ini.
Pantai yang masih alami, tidak ramai seperti Kuta dan kawan-kawannya di Bali.
Di sini jarang pengunjung malah. Tapi ada sekelompok anak bermain bola di tepi pantai, jumlah mereka belasan. Entah dari mana. Mengingatkan aku.

[aku dulu juga pernah bermain bola di sini]

Aku melepaskan sepatu dan kaos kaki, meletakkan jasku di atas pasir, melemaskan ikatan dasiku, lalu berjalan ke arah pantai. Ah, aku rindu dengan rasa pasir di sela-sela jemari kaki, hempasan ombak, dan bau laut.
Aku terus berjalan dan berjalan ke dalam air hingga air laut itu sudah merendam setengah betis, membuat celana panjang ini terasa lengket di kaki.

[anak-anak itu masih asyik bermain bola di sana]

Ombak mulai keras menerpa, menggoyahkan kakiku. Waktu kecil aku suka berdiri di pinggir laut sambil terus mencoba berdiri melawan ombak yang menerjang tubuhku. Mencoba menjadi seperti batu karang yang tidak tergoyahkan oleh ombak sekalipun.

[Tapi tetap saja sampai sekarang aku masih bisa dihempaskannya]

Bola kaki jatuh di sebelahku, membuat cipratan kecil. Aku menoleh. Anak-anak itu menendang terlalu jauh rupanya. Seorang anak berlari kecil ke arahku. Wajahnya mirip denganku ketika aku masih muda, semua yang ada padanya malah.

Bola itu mengapung-apung. Kuambil dan kulemparkan ke anak kecil tadi. Dia menangkap bolanya, diam sejenak, lalu menunduk. Mengucapkan terima kasih sepertinya. Segera ia kembali ke tengah kawan-kawannya lagi melanjutkan permainan bola yang sempat terhenti tadi.

Aku kembali memperhatikan laut yang ada di depanku. Ombak masih menerpa hingga pinggang, membuatku sedikit tersentak ke belakang.

[anehnya aku menganggap itu tantangan]

Aku terus berjalan ke arah laut. Ombak mendorongku kembali ke pantai. Aku terus melangkahkan kakiku ke depan. Walaupun ombak semakin besar menerjangku ke belakang.

Aku berhenti ketika air asin itu sudah setinggi pinggangku lebih sedikit. Entah berapa lama aku berdiam di situ. Tidak ada suara anak-anak yang bermain bola tadi lagi, mungkin mereka sudah pulang semua, aku malas menoleh ke belakang.

Ku pejamkan mata, mencoba merasakan setiap sel di tubuhku yang lalu bergetar memberi tanda bahaya.

Aku membuka mata, di hadapanku sudah ada ombak bergulung, pecah, dan siap menerjang.
buurrr... detik berikutnya aku terhempas ke belakang dalam gerakan slow motion. Tubuhku terbenam, terapung, dan melayang-layang sebentar di dalam air, untuk kemudian ditarik ombak dan tenggelam...
tenggelam...
dan tenggelam.

<< Home






February 01, 2005

Old Willow Tree, pt. 2

 



Rokok ini sudah habis. Aku mencoba bangkit.
Aduh, sayapku masih terasa sakit. Luka-lukanya belum tertutup sempurna.
Jadi aku merentangkan sayapku dan berbaring kembali.
Hmmm... pemandangannya bagus sebenarnya dari bawah sini. Dari bawah pohon willow tua ini.

Tanpa kusadari kau sudah ada di sebelahku sejak tadi. Kau melihatku sambil tersenyum manis, simpul. Aku tidak melihat sosokmu, aku hanya melihat warnamu.
Kau putih, sedangkan aku hitam.

[Bukankah hitam dan putih selalu ditakdirkan untuk bersatu?]

Dan kau berkata, kepadaku,
Maukah kau mengajakku terbang?
Aku terdiam, sambil terus melihat warnamu. Putih, putih, tapi aku tidak pernah melihat sosokmu, tampilanmu, pentingkah itu? Bukankah aku mengetahui hatimu, walaupun aku masih ragu? Putih, seputih warnamu. Sedangkan warnaku hitam, sehitam hatiku.

Tapi bukankah hitam dan putih adalah satu? Hitam sangat berlawanan dengan putih, maka itu mereka ditakdirkan untuk bersatu, saling mengisi, saling melengkapi. Apa gunanya hitam tanpa ada putih? Begitu pula putih yang kesepian tanpa adanya hitam. Jika mereka berdua ada, maka tercipta keseimbangan.
Aku berkata pelan, tidakkah kau lihat sayapku yang masih terluka?
Sebenarnya aku hanya ingin berbaring di sini sambil melihat-lihat pemandangan bagus dari bawah sini..
Tapi, dia berkata lagi, pemandangannya lebih bagus dari atas sana...

[Pemandangannya lebih bagus dari atas sana.]


Lagi-lagi aku hanya diam mendengar perkataanya.
Tapi aku tidak bisa membawamu terbang, sayapku sedang terlu...
Ia menyentuh setiap bulu-bulu sayapku dan menyembuhkannya. Ia menyentuhnya dan menghilangkan semua perih yang ada, menggantikan warna merah darah dengan warna putih miliknya.

Kini, maukah kamu mengajakku terbang? Bersamamu?
Aku berdiri, mengibaskan sayapku sekali dua kali. Rasanya seperti baru kembali.
Aku menoleh ke arahmu. Kutatap warnamu.
Apakah kau percaya kepadaku?
Aku percaya kepadamu.
Mengapa kau ingin terbang bersamaku?
Karena aku ingin terbang bersamamu.

Aku tersenyum.
Baiklah, peganglah tanganku. Kita akan terbang tinggi dan jauh, mungkin melewati atmosfer bumi, mungkin kita akan sampai ke bulan.
Untuk apa terbang terlalu tinggi? katamu. Aku takut terjatuh nanti.
Bukankah kau percaya kepadaku?
Iya, aku mempercayaimu.
Aku tersenyum lagi.
Kalau kita terbang lebih tinggi kita bisa lihat pemandangan yang lebih indah, bukan?
...baiklah, kau mengangguk setuju.

Maka peganglah tanganku. Aku akan merentangkan sayapku dan membawamu terbang tinggi, setinggi apapun yang engkau mau.



<< Home