March 24, 2007

Rilla

 


Rilla tidak percaya apa yang ia lihat, apa yang ia baca di monitor komputernya yang masih menunjukkan kata-kata yang entah kebenaran atau hanya cerita. Rilla tahu lelaki itu sering menulis cerita, tapi ia tidak tahu apakah itu benar cerita atau bukan: kisahnya begitu nyata. Betapa banyak emosi yang tertumpah di dalam ceritanya, mungkinkah hanya sekadar cerita?

Ia mencoba mengingat wajah lelaki itu, lelaki yang ia kagumi. Lelaki yang cuek dan terkesan tidak peduli; wajahnya malas namun seketika menjadi serius jika mengerjakan sesuatu yang ia sukai. Rilla menyukai keseriusan yang terpancar di matanya dan entah kenapa bisa memancarkan pesona dari lelaki itu. Dan kemudian ia baru tahu ternyata lelaki itu bisa terluka; lelaki yang ia kira kuat selama ini telah menunjukkan tangisannya ketika sahabatnya pergi. Air mata adalah luapan emosi yang tidak pernah bisa tertahankan lagi. Ia baru tahu kalau lelaki yang tidak peduli itu bisa merasa, dan Rilla ikut menangis juga karenanya. Makin bertambah kekaguman dirinya kepada si lelaki. Andai saja..

Namun kini, di cerita yang ia baca, sang lelaki telah mengakui cintanya kepada seorang wanita, Olivia, sahabat dekatnya. Apakah Rilla tahu hal itu? Apakah ia mengira tidak ada apa-apa di antara mereka, ia juga tidak yakin. Ia melihat pertanda, pertanda yang langsung mengabur ketika lelaki itu kembali bersikap tidak peduli seperti layaknya ia biasanya. Ataukah sebenarnya Rilla telah mengetahuinya, tapi mencoba bersikap tidak peduli dan tidak merasa apa-apa?

Namun kini, apa yang ia baca telah menceritakan semuanya. Rilla tidak pernah tahu perasaan mereka berdua sedalam itu, sedalam apa yang telah ia baca. Ia tahu kenyataan tidak akan bisa mempersatukan mereka, tapi mereka tetap mencoba.

Ia menangis, kalut, sedih, benci dan amarah bercampur menjadi satu. Ia tidak tahu apa yang harus ia pikirkan sekarang, haruskah ia membenci lelaki itu dan sahabatnya? Haruskah ia menyerah dan membiarkan saja mereka berdua?

Olivia, katakanlah kepadaku, benarkah cerita itu?
...

Olivia tidak bisa membohongi Rilla. Malam itu, Olivia menceritakan semua kisahnya. Ia menangis. Rilla menangis. Mereka berdua berpelukan sambil sesenggukan. Semuanya karena sang lelaki. Rilla tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap sang lelaki, masih haruskah ia kagumi ataukah harus ia benci?
Yang ia tahu hanyalah ia mencintai sahabatnya Olivia dan tidak ingin Olivia terluka. Maka ia memutuskan untuk membenci sang lelaki, dan menghancurkan semua rasa yang pernah ada, semua rasa yang ia simpan dari dirinya untuk lelaki itu.

* * *

Aku membencimu, kata Rilla.

Mereka bertemu kembali. Malam itu ia melihat lelaki itu melintas sendiri dengan headphone besar di kepalanya, memperdengarkan lagu-lagu dari Ipod miliknya, menunjukkan betapa autis dan tidak pedulinya ia dengan dunia.

Ketidakpedulian yang membuat ia terlihat keren sekali dulu. Dulu, sebelum Rilla memutuskan untuk membencinya.

Lelaki itu duduk, membuka laptop, dan mengerjakan sesuatu entah apa. Ya, terpujilah teknologi yang tidak membutuhkan kabel untuk sebuah koneksi. Rilla mengamati lelaki, matanya bergerak lincah menjelajahi layar monitor, tangan kanannya sibuk mengklik mouse dan tangan kirinya mengetik karakter yang ada di keyboard. Sesekali ia mengangguk-anggukkan kepala, menikmati musik yang ada di kepalanya. Sesekali ia melihat ke langit dan langit-langit (lelaki itu memang suka memandang ke atas sana). Sesekali ia meminum mocha latte kesukaannya. Sesekali ia berhenti menatap laptop, dan menatap sekelilingnya, berusaha menerka-nerka: siapa mereka, apa yang mereka lakukan tadi pagi, akan apa mereka malam nanti, semuanya.
Sifat kanak-kanak yang masih menempel pada dirinya, dan itu yang membuat ia berbeda. Lagipula itu lebih baik dari kanak-kanak yang dipaksa dewasa, tanpa sadar bahwa mereka tetap saja kanak-kanak yang melarikan diri dari realita.

Lelaki itu terus memperhatikan sekelilingnya, mengubah perlahan arah pandangan. Hingga akhirnya mereka bertatapan.
Lelaki itu dan Rilla.
Ada hujan yang turun, gunung es yang tiba-tiba muncul dari permukaan ketika mata mereka berdua bertatapan.

Tidak ada kata yang terucap antara mereka berdua. Tapi lewat sorot mata, lelaki itu bisa menebak apa yang Rilla rasa.

Malam semakin larut dan satu persatu orang-orang bangkit dari tempat duduknya beranjak pulang. Mata mereka masih bertatapan.
Lelaki itu melepas kacamatanya, ia tidak pernah suka mengenakan kacamata,
"Kacamata menciptakan batas antara mata dengan mata. Aku lebih suka menatap matamu dan berbicara melaluinya. Lucu terkadang, bagaimana mata bisa menjadi perantara rasa, menembus dalam ke hati melebihi dalamnya samudra..."

Rilla melihat ke dalam kedua bola mata itu sekali lagi. Tapi kini berbeda, ia tetap kuat dengan segala kelemahannya. Ia telah berubah banyak, kenapa, Rilla bertanya-tanya.

Lewat mata itu mereka berbicara.
Aku membencimu, kata Rilla.
...karena aku mengecewakanmu, atau karena Olivia?
...aku tidak tahu, mungkin keduanya. Rilla tertunduk sedih.

Rilla sendiri sekarang, semua temannya telah pulang tapi Rilla memutuskan untuk tidak beranjak dari kursi ia duduk.

Hanya satu-dua orang yang masih duduk di tempat itu, menikmati minuman mereka. Saat itu sudah malam, entah jam berapa. Untung saja tempat itu terus buka. Rilla tidak kuasa, ia menelungkupkan kedua tangan ke wajah, wajahnya ke meja.

Lelaki itu menghela nafas, ia tidak ingin melihat wanita menangis. Ditutupnya setengah laptop itu, bangkit dari kursi dan pindah ke sebelah Rilla.

Rilla sedikit terkejut ketika ia menyadari sebuah tangan menyapa bahunya, lelaki itu menatapnya dekat, tidak jauh, tapi lekat.

Mengapa, mengapa ia?
Kami memang egois, dan merasa perlu jujur kepada diri sendiri sesekali.
Tapi kau tahu ia tidak bisa bersamamu?
...
Berhentilah menghubunginya.
Jika tidak, ia akan menghubungiku juga.
...
...
(hening)
...aku membencimu, semua kekaguman untukmu seketika hilang di mataku, hancur tanpa pernah kau tahu..
...aku tahu semuanya, dan aku menerima kau memikirkan aku seperti itu. Konsekuensi logis dari tindakan yang aku ambil kini.
...
...
(hening)
Jadi apa yang akan kalian lakukan?
Entahlah, biar waktu yang menentukan apa jadinya perasaan.
Tolong jangan menemuinya lagi, kau hanya akan melukainya, dan aku akan terluka juga karenanya..
...maaf, Rilla. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Yang aku tahu hanyalah aku sangat egois sekali saat ini.

Dan aku menginginkan Olivia, kata-kata yang tidak bisa keluar begitu saja dari mulutnya, karena ia tahu kata-kata itu akan menyakiti Rilla.

Rilla menangis dalam hatinya. Ia seakan bisa mendengar kata-kata yang tidak keluar dari bibir sang lelaki. Namun ia bisa mengerti, bahwa lelaki itu dan Olivia mempunyai rasa. Rasa yang tidak pernah ia tahu sedalam apa itu. Dan ketika ia tahu sedalam apa samudra, ternyata masih tetap tidak bisa mengukur kedalamannya. Rilla menerawang ke depan, berusaha mencercah sebuah asa, harapan yang tidak sempat terpikirkan. Tapi yang ia lihat hanya meja dan meja, kursi dan kursi, orang lewat sesekali dan tiada lagi...

Kalau begitu, janganlah kau sakiti dia, Joni.


* * *





<< Home






March 20, 2007

Olivia

 

Dinginnya udara Lembang sudah biasa aku nikmati. Dingin dan menyegarkan hati. Namun kali ini membuatku bertambah mati.
Baru tadi, Minggu pagi ini, satu temanku pergi.

Aku duduk di beranda rumah, menghisap rokokku dalam-dalam sementara mentari pagi masih berusaha mengusir embun yang enggan jatuh dari kelopak bunga, dari urat-urat daun yang menempel di ranting pohon.

Apakah kau sudah terjaga, Olivia?

Tidak ada pembicaraan berdua malam tadi dengan secangkir kopi hangat di tangan kita seperti yang telah kita janjikan sebelumnya. Kau tertidur lebih dulu semalam, dan aku tidak ingin membangunkanmu. Aku hanya bisa menatapmu yang tidur dengan wajah damai, melepas semua bebanmu sejenak, melarikan diri dari dunia tanpa perlu merasa bersalah karena meninggalkannya. Membuat aku hanya bisa tersenyum tanpa perlu berkata-kata. Inginku mencium lembut dahimu sambil ikut tertidur bersamamu, menghangatkan diri dalam selimut dan menjadi hangat karena aku di dekatmu. Tapi berita tiba-tiba ini membuatku insomnia, jadi aku memilih untuk keluar saja dan membiarkanmu tertidur lelap.

Jari telunjukku panas. Rokok yang hampir menyala habis menyadarkan dari lamunan yang hinggap, mengajakku kembali ke dunia. Tidak ada lagi lamunan, khayalan, atau imajinasi. Membuatku harus kembali berpikir dewasa. Walaupun aku tahu aku seorang dewasa yang masih kekanak-kanakan. Tapi aku lebih suka seperti itu, daripada kanak-kanak yang dipaksakan untuk bersikap dewasa.

Aku mematikan rokok itu dan melemparnya ke tempat sampah. Meleset, biarlah nanti aku masukkan kembali. Aku masih memikirkan temanku yang pergi, mengapa harus terjadi. Air mata tetap tertahan, walaupun kesunyian semakin mengajak aku untuk melepaskan. Aku memikirkan pekerjaan yang sementara dilupakan. Sabtu dan Minggu ini aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk melihat wajahmu, Olivia. Walaupun Jumat kemarin tiba-tiba banyak sekali pekerjaan yang diberikan. Aku sudah bekerja lembur semalam menyelesaikan, hanya untuk paginya (pagi tadi, tepatnya) diberikan pekerjaan baru lagi. Untunglah deadline-nya Senin pagi, aku akan mengerjakannya malam ini setelah kita kembali ke Bandung nanti.

Kepalaku pening. Kenapa aku masih saja memikirkan banyak hal. Padahal aku bisa melupakannya sekarang, sebentar saja. Karena Olivia. Ia sudah bangun dan mendekapku tiba-tiba dari belakang,

Badanmu hangat, kau baik-baik saja?
Jawabanku hanya sebuah senyuman kecil tanpa kata-kata.
Terlalu banyak yang kau pikirkan, adakah yang bisa aku lakukan untuk membuatmu melupakan?
Tidak mengapa, asal kau ada di sini tidak mengapa.

Sisa pagi hari itu terhabiskan dengan dekapan untuk mengusir dingin. Hingga aku masuk dan kembali tidur di ranjang. Aku ingin tidur yang lelap tanpa harus terjaga kalau bisa. Betapa aku merindukan tidurku yang dulu, yang membuatku bangun jam sepuluh atau jam satu.

Dekaplah aku, Olivia, jangan biarkan aku terjaga...


* * *


Bangunlah, sudah hampir tengah malam.

Aku membuka mata, dan melihatmu, Olivia. Dimana aku, hari apa ini, apa saja yang telah aku lewatkan dari bumi. Pertanyaan yang biasa menghantui kini tidak ada lagi.

Sinar lampu temaram dari kamarmu membuat tenang perasaan, mengusir segala kegelapan yang ada di pikiran.

Aku tidak mengira Senin ini aku akan berada disini. Kemarin malam aku sudah tidak tahan, hampir pingsan. Untunglah aku sudah sampai rumah, jadi aku tertidur begitu saja. Kau bangunkan aku tengah malam, karena ada yang harus aku selesaikan, pekerjaan yang tertunda.

Siang tadi kau menjemputku di kantor. Kita pergi makan berdua di Lantera. Harusnya kita pergi berjalan entah kemana, tapi kau memutuskan untuk diam di rumah saja. Panas sekali siang ini dan macet dimana-mana, katamu. Baiklah kalau begitu, kataku, kita menghabiskan hari ini di rumahmu. Aku menceritakan tentang mimpiku tadi pagi, aku dalam sebuah band memainkan lagu The Beatles di gurun pasir,

Tapi kamu tidak menyukai Beatles.
Bagaimana aku tahu, mimpi selalu datang begitu saja tanpa rencana.
Lagu apa?
Aku lupa lagu yang dimainkan, tapi sepertinya salah satu lagu populernya.
...I Will?
Oh, itu dia! Sepertinya lagu itu.
Hmm, itu salah satu lagu favoritku.
Betulkah? Kalau kamu mendengar versi rock ‘n roll-nya, aku sangsi apakah kamu masih menyukainya.
Haha.
Ya, haha.

Kita ke rumahmu. Kita berbicara tentang apapun itu. Aku mengambil gitar dan memainkan lagu untukmu. Kau ikut menyanyikan lagu. Terkadang aku diam dan membiarkanmu menyanyi, sesekali menimpali. Hal yang menjadi lucu, karena lagu-lagu yang telah aku mainkan dan kau juga nyanyikan terdengar di radio kemudian. Kita menertawakan hal-hal yang tidak perlu ditertawakan tapi tetap saja ditertawakan karena menggelikan. Kau menceritakan duniamu, aku menceritakan kisah-kisah dongengku padamu.

Kita makan malam berdua. Kau menyuruhku untuk mencoba bumbu pecel yang pedas itu. Kucicipi dan aku tidak mau, kau hanya tertawa. Aku juga tertawa.
Kita duduk di sofa. Kau menceritakan hidupmu, aku mendengarkannya sambil melingkarkan tangan di bahumu. Televisi yang menyala tidak lagi perlu kita menontonnya. Kau menyandarkan kepalamu di bahuku.

Aku mengantuk, katamu. Lebih baik kita pindah ke kamarmu, kataku. Tapi kau sudah tidak mendengarnya, kau tertidur pulas, dan aku membiarkanmu larut dalam mimpimu.

* * *

Beberapa jam kemudian, aku yang terbangun di kamarmu. Melihat wajahmu yang berada di samping wajahku.

Pekerjaanmu sudah selesai?
Sudah cukup untuk malam ini. Bagaimana denganmu, apakah kau akan pulang malam ini?
Aku tidak mau. Bolehkah aku tinggal disini malam ini?
..kau harus pulang..
..haruskah aku?
...
... aku takut jika aku melangkah keluar dari kamar ini walaupun hanya satu langkah kaki, aku akan menyesal karena aku telah melepasmu pergi.
...

Kau mendekatkan tubuhmu padaku, kudekapkan diriku padamu. Entah kemudian apa yang kita pikirkan saat kita mulai berciuman, sesuatu yang sangat ingin kita lakukan sejak dulu. Sesuatu yang tidak bisa kita lakukan dulu karena kau bersamanya dan aku bersama dia. Sesuatu yang harus kita lepaskan namun kini telah kembali menemukan kesempatan ketika kita menyerah begitu saja pada suasana.

Tidak perlu memikirkan apa-apa karena saat itu yang ada hanyalah kita berdua, kau dan aku, Olivia.

* * *

Bercinta telah usai, ciuman tidak perlu kita lakukan lagi karena telah membekas di hati. Kita diam rebahan memandangi bintang-bintang yang terlihat di langit-langit kamar, tanpa memedulikan lolongan anjing di malam hari. Kau lelah dan tertidur. Pelan aku menarik tanganku dari bahumu agar kau tak terbangun. Aku bangkit dari ranjang, keluar kamar dan duduk di sofa, lalu menyalakan sebatang rokok. Sambil mengingat kata-kata yang termaknakan dalam pembicaraan kita tadi,

Bagaimana jika kau terbangun nanti kau tidak bisa menemukanku? Bagaimana jika semua yang barusan terjadi hanya sebuah mimpi, Olivia?
...aku akan sedih, hatiku hancur berkeping dan mungkin akan mati. Bagaimana denganmu?
Aku akan kembali tidur, mencoba mengejar mimpi itu kembali dan tak ingin terbangun lagi.
[Mata kita saling bertatapan, sambil mengatakan perasaan lewat senyuman]

Kau masih tertidur ketika aku kembali ke kamarmu. Aku kembali naik ke atas ranjang, mendekapmu dari belakang. Perasaan gundah datang dan bertebaran ketika mataku menerawang menjelajahi kamar dan menemukan foto kalian di atas meja. Kalian sedang duduk di sebuah meja, entah dimana, mungkin sebuah pesta atau acara biasa. Namun keduanya bahagia, entah apa yang kalian rasa sekarang.

Kau tertidur pulas dalam pelukanku, ketika aku berbisik lirih di telingamu,

Jangan pernah tinggalkan kekasihmu demi aku, Olivia..


* * *

Handphoneku masih tergenggam di tangan. Mataku masih membaca berulang-ulang, pesan yang kuterima darimu tadi malam,

Aku ingin mengingat malam ini sebagai sebuah cerita, yang dapat kubaca berulang-ulang ketika aku merindukanmu.
Biarkan aku tidur dan memimpikan kisah yang kau ceritakan padaku, biarkan kau tidur dan memimpikanku.
Selamat tidur ksatria-ku..

Maka biarlah kisah ini tersampaikan untukmu, biarlah kau baca kisah ini ketika kau merindukanku. Ingatlah malam itu sebagai kenangan antara kau dan aku, sebelum begitu saja berlalu...


<< Home






March 15, 2007

Chika, Chiki, dan Chiko

 


Chika berambut putih dengan sedikit lingkaran oranye di punggungnya. Ia sangat malas. Hobinya adalah tidur. Setiap hari ia tiduran di keset di luar pintu, membuat setiap orang yang ingin keluar tiba-tiba meloncat agar tidak menginjaknya. Jika udara luar terlalu panas, ia menunggu orang membuka pintu, lalu masuk dan tiduran kembali di koridor. Membuat orang yang lewat melihatnya sambil melemparkan senyum kecil kepadanya.

Chiki berambut oranye, dengan strip-strip putih dari kepala hingga kaki. Kakinya berwarna putih, membuat ia seakan-akan mengenakan kaos kaki putih. Sehingga aku memanggilnya Chiki si Kaus Kaki Putih. Ia sangat manja. Selalu saja mengejutkanku karena tiba-tiba sudah berada di bawah meja, sekadar minta sedikit elusan di kepala atau pangkuan di paha.

Chiko berambut abu-abu, dengan mata coklat tua. Ia sangat ingin tahu. Setiap hari ia pergi menjelajahi ruangan untuk bercakap-cakap dengan mesin printer yang terus mengeluarkan kertas dari dalamnya, bermain tepuk-tepukan dengan tirai jendela, dan juga berkejar-kejaran dengan gumpalan kertas yang tidak masuk sempurna saat kulemparkan ke tempat sampah.

Jika sore hari hujan turun, aku membuat teh manis hangat dan duduk di sofa depan sambil menyeruputnya. Melihat keluar kaca, apakah kau merasakan perasaan yang sama?
[Pertanyaan bodoh, tentu saja. Kau benci hujan.]
Aku juga heran, karena aku pernah tidak menyukai hujan sepertimu. Sangat membencinya malah. Tapi justru karena kau perasaanku berubah. Aku sekarang menganggap hujan sebagai sebuah perasaan, perasaan harus melepaskan. Seperti mendung yang harus melepaskan hujan, untuk kemudian kembali cerah dan terang, mungkin benderang. Seperti aku yang harus melepaskanmu, untuk kembali berpikir dan mengerti hidupku, mengerti hidupmu.

Entah kenapa ada perasaan hangat yang tersisa, menyelip sempurna ke dalam hati ketika hujan turun tanpa henti, mengalahkan dingin beku yang meraja dalam suasana. Aku bahagia dengan hidupku kini, bahagiakah kamu? Walaupun ada sebuah rasa yang hilang, orbolan kita selama berjam-jam yang sangat kurindukan. Tidak pernah aku bisa berhenti berbicara denganmu hingga subuh dan pagi akan menjelang. Tapi kini aku sudah terbiasa berbicara dengan hatiku, menanyakan apa kabarnya, dan permainan apa yang akan kami mainkan hari ini. Mungkin akhir pekan aku akan mengajakmu pergi, untuk sekadar bercerita, tentang aku, tentang kamu, atau tentang bulan purnama di malam itu. Tapi mungkin kau sibuk dan tidak punya waktu. Aku juga sibuk dan entah aku tahu apakah aku punya waktu untuk itu. Atau tidak.

Tik. Aku mendengar suara tetesan hujan. Tik. Satu tetes lagi di antara sejuta. Kalau di film-film, adegan ini adalah saat dimana gerakan berjalan sangat lambat dengan suara diheningkan kecuali satu tetesan tadi. Detail wajah diambil super close –up. Saturasi diubah menjadi hitam-putih agar lebih dramatis rasanya.
Apakah kau bisa mendengar tetesan hujan yang sama dengan yang aku dengarkan? Mungkin tidak. Mungkin kau tidak punya waktu untuk mendengarkan suara hujan. Mungkin malah terdengar konyol untukmu. Lagipula kau membencinya. Tidak mengapa. Tapi cobalah sekali-kali mendengarkannya, mungkin kau akan suka.

Ya, hujan ini membuatku melankoli. Tapi aku menikmatinya. Apalagi dengan seruputan teh manis hangat. Dulu kau juga biasa membuatkanku teh manis hangat. Kau tidak tahu takaran gula yang tepat untukku, aku sangat menyukai teh yang sangat manis dan hangat. Tapi tidak mengapa, kau membuatkannya dan untukku itu sudah cukup.

Tapi itu dulu, kini aku hanya sendirian di dalam ruangan. Dan langit masih mendung sejak tadi. Hujan masih turun, entah berapa lama lagi berhenti. Mungkin aku akan terus melamunkan apapun andai saja Chiki tidak mengelus kakiku. Aku menoleh dan melihatnya. Ia menoleh dan melihatku. Kuletakkan cangkir teh dan meraih Chiki. Aku duduk bersila dan meletakkan kucing itu di pangkuan, mengelusnya hingga ia tertidur. Hingga Chika datang. Dan Chiko yang juga menyusul melompat ke sofa. Keduanya ikut naik ke pangkuan dan tidur sementara aku hanya melihatnya tanpa mau melakukan apa-apa.

Entah jam berapa waktu itu, hujan telah usai dan ketiga kucing itu masih ada di pangkuanku. Malam telah tiba, mengajak para pemimpi untuk kembali ke dunia petualangannya. Bintang telah memanggilku untuk bermain dan bulan ingin bercerita tentang kau dan hidupmu yang tidak pernah aku masuki lagi sejak saat aku memutuskan untuk meninggalkanmu walaupun sebenarnya kau yang meninggalkanku.

Kuangkat hati-hati ketiga kucing itu dari pangkuanku, satu-persatu, dan berusaha sebisa mungkin tidak membangunkan mereka (Chika tidak akan bangun, Chiki dan Chiko sempat terbangun namun kemudian tertidur lagi). Aku bereskan meja kerja dan berjalan keluar. Sempat kulihat ketiga kucing itu masih tertidur pulas, Chika mendengkur pelan. Aku dekati mereka dan memberikan masing-masing satu elusan terakhir sebelum aku pulang. Kubuka pintu dan kututup pelan agar mereka tidak terbangun.

Dan disinilah aku, kembali di luar, kembali berhadapan dengan peradaban. Tidak ada lagi dinding yang mencoba mengekang atau mungkin malah ingin melindungi dari kehidupan.


Bintang, Bulan, kemarilah, ada yang ingin aku ceritakan kepada kalian...


<< Home






March 08, 2007

oh my god, what the hell has happened to me....

 

Damn. I love this job. Eventhough I have to work overtime until 12pm and walking home alone because there is no more bus (luckily I always bring the ipod with me).

Damn. I think I go crazy because eventhough I'm working full-time-nine-to-five, I still looking for another job vacancy. I still can do some freelance works.

Damn. I drank alcohol again (a lot!) and smoking badly. But I don't mind this time. All 2 years of quitting drinking just disappear. Maybe because it's because of the stress? Hmm, I don't feel any kind of troublesome pressure.

Like I told you before, I AM happy with the situation I am now.

The funny fact is I begin to wake up at 5, doing the holy-ritual things before I go to work, and always arrive at the office 30 minutes early.

Wow, I'm afraid I'm going paranoid-workaholic-architect. I'm afraid I didn't have enough time to do some daydreaming or sleeping or just writing stories.

...

Enough with the talking. Let's do some working.

<< Home






March 07, 2007

~life moves on, summer dreams on!

 

"Time is something given to everyone with the same amount. That's why we must use it well.
Time changes our surroundings. Time changes us. Time changes you."
-something I read somewhere-


Funny how you wake up in the morning and you realized you've done so many bad things in life.
Yep, slothness made me feel lazy. But now I'm fixing everything's up, and I'm happy about it.

Happy?

Yep, never been happy like this before. I got to go to work and that means new situation, new things I will meet. But the fact that I like it is something I didn't think of it before. Maybe it's like you just afraid of something you didn't know, but it turns out to be something you really like to do.

Or maybe she really changed my mind, but nevermind. I'm doing this for myself, for sure. I'm just glad that I met her; I learned so many things from her. And I feel glad to let her go. I have more time and spaces for myself now. Olivia came back to me, but I don't want to think about any kind of relationships right now. I'm just love the situation I am in with the works, works, and works (which also means money, money, and money of course...).

Or maybe, after getting sober while last night you're getting on with bottles of JackD (dammit you guys, haha), you could really thinks clearly enough to realize things. What have I done, why am I here, and questions like that. The drinking and getting drunk is an action to escape, but when you're sober you turn your back and you could see well enough to realize your mistakes.

I used to be too lazy too work, but wow, time really changes people including me.
Funny it is, because I feel good. Maybe I turns out to be a workaholic too, you'll never know. Neither do I, haha.

Love my life? Yes, I love my life now for sure, and that's not including her. I feel a little bit lonely though, but last night Olivia said to me,
"Loneliness linger, but everything's gonna be alright at its time.."
So, they just suppose to happen. It's normal, I think. And I'll get over it.

Hmm, it's 8 already? Well, I've got to work now. Remember people, always turns your internet off when you're working, it's just another kind of distraction that makes your don't do your works. Haha, goodbye for now everyone, I'll see you later after the work is done.





<< Home






March 04, 2007

morning reminiscence

 

I wake up in morning reminiscence.
The dream wasn't that nightmare; it doesn't have that kind of scary monster, or you don't have to run because of the zombies chasing you.
But still, the dream was a horrible nightmare to me: I was there with her, but she left. She walked away, she walked away and I couldn't do anything to stop her. I followed her. She took the left turn at the crossroad. I took the same turn but she's just not there. I began to search everywhere, but she's just not there.

Why are you still in the same dream that keeps repeating night after night you left me? The memory of you hunts me. Funny it is, how you could miss the old days when they are already gone. Do I miss you? I'm sure I do. You're the one who told me to leave, you have no idea how much the love I feel for you making things that didn't real become the reality themselves. It's such a weird feeling in my stomach

The hole I am in now is dark, and I still don't want to climb up. I feel tired a little bit although I know I have to get out of here quickly. My wings still hurt; the time you fall was the time my wings shattered. I have to climb it but it is an infinite darkness.

Sadly I couldn't cry. Because there's no use of crying now, no more tears should fall.

But when I look up, I see light. That will be my reason to get out of here , as fast as I could.

<< Home






March 03, 2007

kepergian

 



Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi. Ia telah berusaha untuk mempertahankan semuanya namun sudah terlambat. Ia berusaha untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya namun dia menutup mata tak mau melihat.

Sebenarnya ia tak ingin pernah pergi dari situ. Ia tak yakin apakah dia tahu. Tapi dia terus menyuruhnya untuk pergi. Ia berpikir dan menyadari, bahwa dia sudah tak ingin bersamanya lagi. Sedih memang, ia kecewa, hatinya pecah, dan hancur berantakan entah berapa ratus ribu kepingan.

Ia hanya merasa dia telah jauh berubah, dia bukan lagi dia yang pernah ia tahu. Atau mungkin ia memang tak pernah tahu. Atau mungkin dia yang dahulu menipu. Dia yang dulu menerimanya sepenuh hati dengan segala kekurangannya. Namun kini, kekurangan itu menjadi alasan perpisahan mereka.
Ia tidak menduga dia akan berkata seperti itu.

Ia sudah memutuskan untuk pergi menjauh dan memberikan ruang untuknya. Agar ia tidak membebani dia. Agar dia bisa tersenyum lepas tanpa perlu merasa tertekan oleh ia.

Sakit memang, tapi ia terpaksa pergi. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia sudah tidak ingin berbicara dengan ia, mungkin dia sudah membenci ia. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi daripada terus menyakiti dia. Pergi dengan terpaksa.

Malam itu ia memberikan bunga kepada dia, dan lagi-lagi sebuah puisi cinta. Tapi dia tidak mau menerimanya lagi. Ia bingung. Mungkinkah kata-kata yang ia tuliskan dulu menyinggung dia? Ia tidak pernah bermaksud buruk dengan kata-katanya, mungkinkah terjadi perubahan resapan makna? Atau mungkin alasan yang sederhana: ia telah menyakiti dia sedemikian rupa sehingga dia tidak mau berurusan lagi dengan ia.
Ia menyadari kesalahannya namun kini sia-sia. Ia ingin memperbaiki, tapi dia sudah tidak mau lagi.
Maka biarlah kini mereka berjalan sendiri-sendiri.

Ia masih takut untuk salah memilih. Karena ia terbukti salah dengan mencoba mempertahankan dia. Apakah ia benar ketika melepaskan dia? Mereka telah berbelok arah yang berbeda. Kemarin ia masih berada di persimpangan, menunggu dia berputar kembali dan kembali berjalan bersama ke depan. Tapi dia terus berjalan. Sesekali dia berhenti, untuk kemudian terus berjalan kembali.

Ia hanya bisa menatap itu dari kejauhan. Sia-sia ia menanti. Dia tak kembali lagi. Akhirnya ia melihat ke jalan yang ada di persimpangan itu. Di belakang ia adalah jalan yang telah mereka lalui. Namun dia berbelok ke kiri. Ia memutuskan untuk berbelok ke kanan, bertentangan dengan jalan yang dia pilih. Sesekali ia menoleh ke belakang berharap ia kembali. Tapi dia tak pernah datang. Ia mengharapkan dia akan tiba-tiba memeluknya dari belakang, sambil berkata, kejutan!
Andai saja itu nyata, karena tak pernah ada.

* * *

Malam itu ia pergi meninggalkan kantor tempat dia bekerja. Dia barusan pergi, wangi parfumnya masih jelas terhirup oleh ia. Tapi biarlah itu segera terlupa. Karena kini ia telah berada di trotoar, menatap lurus ke jalan yang kakinya akan langkahkan. Tapi kali ini sendiri, dia telah pergi meninggalkannya.

Angin malam terasa
menjadi tak bersahabat. Kegelapan mengunci bibirnya rapat, sehingga tidak ada rintihan pilu yang keluar malam itu. Dingin menusuk rusuk ketika ia melangkah pergi.
Ia tidak tahu harus merasa apa, ia sudah tidak bisa merasa sejak hati dibawa pergi oleh dia. Kini tidak ada air mata, lautan air matanya telah kering karena setiap malam dalam kesepian yang menyedihkan.

Dalam suatu tapakan kaki kanan, menyala benderang tiba-tiba lampu jalan. Lampu yang sebelumnya mati dan tak pernah menyala sebelum ia lewati. Apakah ini sebuah pertanda, apakah ini sebuah jawaban, O Tuhan?
Lampu jalan hanya ingin menghiburnya, menunjukkan bahwa ada cahaya di setiap kegelapan.

Ia berhenti sejenak, bertukar pikiran dengan sang Lampu Jalan. Beberapa detik mereka bertatapan. Sehingga akhirnya ia menunduk
tersenyum, menghela nafas, dan kembali melangkah. Dipasangnya headphone ke telinga dan lagu kembali terdengar. Lagu perpisahan. Lagu mengenangkan.

Hatinya sudah tidak sedih lagi. Tapi kosong, ia tidak merasa apa-apa. Sangat sulit untuk mengakui bahwa ia harus berpisah dengan dia yang masih ia rasa cinta.
Hampa, ia berkata, terima kasih Malam, karena telah memberikan kenangan antara aku dan dia..







<< Home