November 27, 2006

Hujan Tengah Malam

 

Hujan. Akhirnya turun hujan.

Saya tidak pernah bisa bisa menyukai hujan. Hujan adalah peringatan. Hujan adalah sepi yang menekan. Hujan adalah titik dimana semua rasa terlepaskan, terbebaskan turun ke bumi untuk kembali menguap kembali ke awan.

Semalam saya terbangun. Tengah malam. Entah kenapa perasaan tidak enak. Tenggorokan seperti tercekat. Seperti menelan duri. Saya tidak ingat pernah menelan duri sebelumnya, tentu saja, mungkin ini hanya sebuah firasat buruk, pertanda. Pertanda sesuatu, tapi apa? Duka? Suka?

Tidak mungkin suka. Perasaan tidak enak selalu pertanda buruk. Seperti di film atau cerita. Cerita yang tidak selalu berakhir dengan bahagia. Seperti cerita tentang Gadis Ophelia. Mungkin nanti saya akan bercerita tentang Gadis Ophelia, saat ini pikiran saya masih mencari. Mencari alasan mengapa saya terbangun malam ini.

Saya duduk bersandar pada bantal yang bersandar ke dinding pula. Dalam kamar, sendirian. Televisi masih menyala. Tapi suaranya samar. Hanya hembusan nafas terdengar, pelan-pelan pertanda sadar.
Dan hujan turun deras di luar sana, di balik dinding yang memisahkan luar dan dalam. Hangat dan dingin. Memisahkan kita. Memisahkan saya dan kamu, entah dimana.

Saya mencoba mengingat-ingat mimpi apa yang membuat perasaan saya tercekat. Namun tidak bisa ingat. Jangan-jangan memang tidak bermimpi sama sekali. Hingga saya menyadari betapa hujan di luar sana membuat saya menggigil kedinginan. Hingga tubuh saya selimutkan. Hingga perasaan kembali nyaman. Namun tetap saja otak masih membutuhkan alasan. Alasan mengapa saya harus terbangun tengah malam.

Apakah karena hujan?

Hujan. Saya benci kamu, Hujan.

Hujan adalah tangisan. Hujan adalah perpisahan. Hujan adalah kebencian awan yang menolak menyimpan tetes-tetes air dan kemudian dijatuhkan kembali ke bumi.

Dan saya tetap terjaga, entah untuk berapa lama saat itu: satu menitkah, satu jamkah, bahkan satu dasawarsa tak akan terasa bedanya. Jam di atas televisi itu sudah tidak bergerak lagi sejak kapan, saya selalu lupa mengganti baterainya. Ataukah waktu memang berhenti sejak tadi?

Julia.
Julia?
Ada apa dengan Julia?

Telepon tiba-tiba berbunyi. Kejutan. Tengah malam. Membuat penasaran, siapa gerangan yang menelepon saya tengah malam.
Halo?
...Joni?
Julia rupanya.
Ada apa, Julia?
Aku bermimpi, buruk sekali. Entah kenapa mimpi itu datang mengganggu. Aku tidak tahu.
...tenanglah Julia, semuanya akan baik-baik saja.
Peluk aku Joni..
Selalu, Julia..

Beberapa menit kemudian percakapan terhenti. Sendiri lagi. Sepi lagi. Apakah telepon tadi sebuah alasan? Sebuah pertanda? Sebuah jawaban? Jawaban mengapa hujan turun dan saya harus terbangun?

Tidak ada suara lagi selain hembusan nafas yang keluar pelan dan terdengarkan. Juga rintik hujan yang semakin deras mengeras, membuat nafas semakin terdengar tak jelas.

...

Hujan.
Semakin saya membenci dirimu, Hujan...

<< Home






November 26, 2006

Dialog

 

Kenapa kamu mencintai aku?

Memangnya kenapa? Tidak boleh?

Bukan begitu. Aku hanya ingin tau alasan kamu.

Apakah butuh alasan untuk mencintai kamu?

Hmm, tapi aku orang yang sangat logis. Aku butuh alasan.

Well, terimalah fakta kalau aku mencintai kamu saat ini.

Betul begitu?

Ya.

Kalau begitu aku juga mencintai kamu.

Oh, jadi kamu mencintai aku karena aku bilang aku mencintai kamu? Seandainya aku bilang aku tidak mencintai kamu kamu juga tidak mencintai aku?

Bukan. Kalau begitu aku akan tetap mencintai kamu walaupun kamu tidak mencintai aku.

Kenapa begitu?

Apakah butuh alasan untuk mencintai kamu?

<< Home






November 22, 2006

intermezzo..

 

Julia curang.
Dia bisa menyanyikan lagu I've Got Johny In My Head sementara saya bingung mencari-cari lagu yang ada kata-kata Julia-nya..
Apa?
The Beatles?
Tidak, saya tidak begitu suka dengan lagu yang itu, nadanya aneh. Saya juga tidak suka The Beatles kok.
Lagu apa ya..

* * *

Julia sialan.
Sekarang semua teman kerja di kantornya mengetahui blog ini.
Saya tidak terlalu suka.
Mampus.

* * *

Biar lebih terkonsentrasi buat kalian yang ingin membaca Balada Joni dan Julia, silakan buka blognya di http://baladajonidanjulia.blogspot.com/ atau klik disini.
Saya tetap akan post di blog ini dan nantinya akan saya post di blog barusan itu juga. Cerita-ceritanya belum dibikin juga sih, yaaaa, liat aja beberapa posting sebelum ini sebagai cerita pembuka yang akan dipost ke sana.
Haha.

<< Home






November 20, 2006

Balada Joni dan Julia di Atas Motor

 

Julia.
Suka naik motor. Tidak tanggung-tanggung: Thunder yang kalau dinaiki membuat badannya yang kecil makin terlihat mungil. Yang juga kalau dinaiki membuat para lelaki yang mendekati menjadi kecil hati mengurungkan niat mendekat lalu pergi.
Hal yang membuat Julia kesal setengah mati.

Pada suatu hari Julia pulang dengan motor Thunder kesayangannya. Ia terkejut. Di depan rumahnya duduk seorang Joni. Tampang Joni diam seperti memikirkan kata-kata. Joni diam seribu bahasa. Apalagi Julia, yang takut Joni akan berkata menghina seperti lelaki lainnya:
Ih, cewe kok naik motor Thunder. Nggak pantes!
Julia mendekati Joni. Tampang Joni masih menunjukkan kebingungan. Tampang Julia menunjukkan kegelisahan. Lalu Joni berkata:
Bwahaha, cewe kok naik motor Thunder. Lucu!
Julia ternganga. Karena tidak mengira Joni akan tertawa. Namun dalam hati merasa lega, lega karena Joni menerima dirinya apa adanya dan bukan ada apanya.


Joni.
Joni tidak pernah bisa naik motor. Teman-teman Joni kadang mencerca,
Cowo kok nggak bisa naik motor?!
Hal yang membuat Joni bingung: sejak kapan gender menjadi pertimbangan bisa naik motor atau tidak? Bukannya tidak mau, ia hanya merasa itu tidak perlu. Toh ia tidak punya motor dan tidak punya SIM C, katanya. Katanya juga,
Buat apa ada supir angkot?
Dasar Joni cuek setengah mati. Sangat tidak peduli.

Pertama kali Joni melihat Julia pulang ke rumahnya menaiki motor Thunder kesayangan Julia itu, Joni diam seribu bahasa. Ia hanya berpikir,
wow, motornya bagus..
Dan juga,
wow, dia jadi terlihat kecil sekali...
Dan pikiran lain seperti,
wow, saya lapar, ngantuk pula belum tidur dua hari..
Membuatnya menghasilkan mimik bingung nan autis sebelum Joni sadar kalau Julia mendekati. Tampang Julia menunjukkan kegelisahan, mungkin grogi. Lalu Joni berkata:
Bwahaha, cewe kok naik motor Thunder. Lucu!
Dasar Joni seperti orang gila. Mikir saja kok lama. Otak Joni memang sedikit berlebihan. Julia ternganga. Karena tidak mengira Joni akan tertawa. Namun dalam hati merasa lega, lega karena Joni menerima dirinya apa adanya dan bukan ada apanya.

Jadilah malam minggu itu mereka pergi nonton ke bioskop. Naik motor Julia. Tentu saja Julia menyetir motor dan Joni dibelakangnya. Udara malam dingin menghembus mereka di jembatan layang Pasupati. Joni melihat-lihat ke kanan kiri. Banyak pasangan yang sedang pacaran di pinggir jembatan. Saling berpelukan.
Lalu Joni memeluk Julia dari belakang. Tapi Julia protes, katanya, geli. Joni menarik tangannya lagi lalu tertawa kecil. Joni senang sekali. Akan dia ingat malam ini.

<< Home






Prolog

 

Joni.
Mahasiswa. Dua puluh dua. Tampang biasa tapi lumayan gaya. Romantis katanya. Cuek setengah mati. Selalu dikira orang tidak mandi. Suka melihat langit dan langit-langit setiap hari. Tidak suka ikan. Tidak suka sambal karena pedas dan bikin keringatan. Oleh karena itu, ia tidak akan pernah makan ikan sambal. Tapi ia menyukai Julia.


Julia.
Mahasiswi. Dua tahun lebih muda dari Joni. Pintar. Sedikit maskulin. Dandanan tetap feminin. Suka ikan. Suka pedas. Suka ikan sambal yang pedas. Suka menyendiri. Kecewa karena cinta yang telah mati. Berjanji tidak akan jatuh cinta lagi. Namun ia menemukan Joni.

Berdua akhirnya mereka membuat cerita:
Balada Joni dan Julia.

Hmm, nantikan saja.

<< Home






November 18, 2006

november 18 sore hari di cubicle julia

 

Ya. 18 November lagi. Ulang tahun lagi.
Dan seperti layaknya orang yang berulang tahun, setelah tengah malam hp saya terus berbunyi menerima sms yang masuk. Huh, mengganggu orang yang mau tidur saja. Tapi tidak apa-apalah, sekali setahun ini. Untung saja ulang tahun itu cuma satu hari dalam satu tahun. Coba kalau tiap hari, bisa gila juga nggak bisa tidur karena hp terus bunyi setiap tengah malam. Dan juga, istilahnya jadi terasa tidak enak didengar: ulang hari.

Maaf, malam ini saya capek sekali. Jadi, hp saya silent dan saya tidur dulu. Tepat setelah Mama memberikan ucapan selamat plus kecupan lama di pipi kanan.


* * *

Pagi-pagi bangun dan benar saja: you got 18 new messages.
Hmm, saya baca satu-satu. Ada yang standar, ada yang cukup meriah, ada yang lucu. Seperti pesan dari Budi, Bada, dan Badu:

[From: Budi Bada Badu
Jon, met ultah. Wish u all the best!
Komik Calvin and Hobbes pertama kali muncul jg tgl 18 November. Tp 1985.
Lu 1984 kan? Atau 1884?
Ya'olo, tua banget lu Jon!]


Haha, dasar mereka. Saya memang tergila-gila dengan Calvin and Hobbes dan bisa-bisanya dikaitkan dengan ulang tahun.
Dan yang najis seperti ini:

[From: Sahala Maynard
Jonbi, met ultah ya. Smoga panjang umur, panjang kuliah,
panjang t*t*t, panjang list mantan.
Pokoknya panjang segalanya.
Jon, lo tau kan gw sayang ama lo!!
cup2 muah2...]

Tai lo La, FYI gua NGGAK akan sayang sama lo kok. Ya minimal juga kalo gua gay, gua ga akan jadi pacar lo, haha.

Wah, terimakasihlah buat kalian semua teman-teman...


* * *

Hmm, saya sedang tidak ada kerjaan. Menunggu Julia sebenarnya. Dia sedang bekerja di studio. Dan saya menunggu di cubicle-nya. Berinternet ria. Lambat sialnya. Buka email. Menulis cerita ini di blog. Juga buka friendster. Ternyata di friendster juga ada testimoni untuk saya, masih seputar ulang tahun ria.

Ah, cukup-cukup. Tidak usah membahas ulang tahun terus-terusan. Karena seselesainya Julia bekerja, kami akan pergi kencan. Sekali-sekali Julia datang ke cubicle-nya menengok saya, siapa tau saya merasa bosan dan butuh hiburan. Dan saya menyapa,

"Hai cantik.."
"Apa sih ah.."
"...halo jelek..."
" (tersenyum) halo juga, jelek..."

kemudian dia kembali ke studio. Tapi saya cukup sabar ternyata menunggu dia. Lagipula, di cable tadi ada Pocoyo (ah, sudah lama saya tidak menonton Pocoyo) dan itu cukup membuat saya terhibur.

Ah, malam cepatlah datang dan jangan pagi menjelang.

<< Home






November 17, 2006

Balasan dari Julia

 

You've got the ticket, Joni. Tiket untuk mengobrol sampai puas. Untuk membicarakan dan mendebatkan banyak hal. Membicarakan banyak buku. Melihat banyak gambar sambil makan cheese cake dengan balutan blueberry. Sambil bergandengan tangan melewati lift yang sempit dan lorong yang gelap tanpa merasa sesak tanpa takut pobhia menyerang di saat tak terduga.

Si Gadis Ophelia, punya alasan sendiri kenapa dia hanya diam, kenapa dia hanya tertawa di dalam mimpi-mimpinya, kenapa dia berhenti berbicara, kenapa bibirnya yang dingin membeku untuk berhenti tersenyum, kenapa si Gadis Ophelia hanya duduk sendiri termenung menatap matahari terbenam.
Mungkin... karena dia sendirian. Dan merindukan seseorang disisinya.


Hey Joni, Mari kita berjalan bergandengan tangan, besok...





* dia memanggil saya Joni, dan saya baru ngeh kalau kata Johny dalam lagu I've Got Johny In My Head yang dia katakan itu adalah saya, Joni...

<< Home






Surat Untuk Julia

 

Sudah jam 2.22 pagi dan saya masih di studio. Tempat printnya sudah tutup sekarang, tapi katanya jam 5 akan buka lagi. Mungkin jam 5 nanti saya kesana.

Studio sepi. Hanya beberapa orang yang terjaga. Sidang tinggal 4 jam lagi dan saya tidak merasakan emosi apa-apa. Tidak tegang. Tidak senang. Tidak kesal.
Semuanya terasa datar.
Mungkin juga karena saya lelah, otak sudah jenuh, tidak mau memikirkan apa-apa lagi karena sudah terlalu penuh.

...
Kamu tahu apa yang saya inginkan sekarang?

Ketika semua ini selesai dan saya mempunyai semua waktu di dunia ini untuk saya habiskan, saya ingin terus bersama kamu, entah sekedar bercerita tentang angin yang menyampaikan salam dari ksatria tadi malam, atau tentang bulan memberitahukan kepada saya betapa indahnya dirimu bertualang di dunia mimpi hingga mentari lagi. Mendengar cerita mereka membuat saya tersenyum, dan membuat saya terus terjaga tanpa bisa tidur.

Kita bisa duduk atau tiduran di padang penuh ilalang, tanpa takut kehabisan waktu karena pagi tak akan menjelang jika kita tak saling melepaskan pegangan tangan. Atau berciuman di bawah bayangan pohon willow sambil berpelukan tanpa pernah merasa dingin karena perasaan kita saling menghangatkan.

Dan saya berharap lusa akan segera tiba agar saya bisa pergi ke hatimu dan mengetuk pintu di dindingnya yang merah jambu hingga kaubukakan dan mengajak saya bermain di dalamnya..

Saya merindukan kamu, Julia..

* dan ketika saya memejamkan mata saya saat ini, saya masih mencium wangi parfum yang kamu pakai tadi malam, dan itu membuat saya senang karena merasa kamu masih berada di sebelah saya...

<< Home






November 15, 2006

kontemplasi pagi 5:19

 

Pagi hari. Cahaya mentari
menyilaukan mata dari sebelah kiri.
Masih subuh. Sudah jenuh
tapi belum juga tidur. Mungkin
setelah semuanya selesai aku akan tertidur lelap
tidak hanya sekejap.

Jalan Dago masih sepi. Udara dingin
menembus masuk ke paru-paru. Sementara rokok ini
tak kunjung habis. Hanya aku di luar berdiri
menikmati langit subuh yang memerah
sementara kau masih tenggelam dalam mimpi-
mimpimu yang kucintai.

Matahari terbit merah perlahan berubah
jingga. Mengajakku tertawa. Tawa yang dipaksa.
Karena kau masih tenggelam dalam mimpi,
mimpiku akan dirimu yang kucintai.

<< Home






November 14, 2006

selasar plano

 

Tadi saya berjalan di selasar Plano dan melihat si mantan yang saya benci karena selingkuh itu bersama adiknya sedang berjalan ke arah saya di samping kanan jauh saya.
[Otak saya sedang jenuh. ]
Saya berinisiatif melupakan dendam di masa lalu. Katanya, bukanlah permintaan maaf yang penting, tapi keinginan untuk memaafkan.
Sudahlah, masa lalu biarlah berlalu, mari kita mulai lembaran berlalu.
Jadi saya tersenyum sedikit sambil terus berjalan. Entah dia melihat atau tidak.

Tapi kemudian saya mendengar suara tawa dia dari kejauhan.

...
Okay, maybe I'll reconsider about the forgiving things...

<< Home






November 10, 2006

Hari ini di studio TA banyak sekali teman-teman yang akan lulus (diwisuda besok). Semuanya berdatangan dari kampung halaman. Well, mereka sudah nggak kuliah lagi semester ini, karena tinggal diwisuda itu.

Dan mereka semua bicara tentang kerja, mau jadi apa ntar, mau jadi arsitek di Singapore atau nggak, mau nikah kapan, bla bla bla.
Dan sialnya mereka semua berkumpul di cubicle saya. Saya serius di depan komputer, mereka ngobrol sambil duduk di belakang saya.
Dasar tidak sopan, jadinya saya terpaksa ikut mendengarkan mereka ngobrol bla bla bla tadi walaupun mata masih melihat komputer.
Dan jadinya saya juga menjadi memikirkan mau jadi apa nanti, mau kerja dimana nanti, mau nggak nikah atau nikah, bla bla bla.

Huh,
pikiran saya jenuh.
Perut saya menjadi penuh.
Jadi ingin berkontemplasi di kloset untuk sementara.

<< Home






November 09, 2006

hasil pergaulan bersama mtv tengah malam

 

Ada yang tahu band berjudul Whisper Desire?
Ini kedua kalinya saya melihat video klipnya di MTVnya Global. Klipnya lumayan bagus. Lagunya juga. Tapi bukan itu yang bikin saya penasaran. Sepertinya saya pernah dengar nama Whisper Desire. Curiganya sih band anak ITB juga...

* * *

Saya lagi suka-sukanya dengan Muse (lagi). Gara-gara lagi nggak ada kerjaan Minggu siang, jadinya tidur-tiduran di kamar dan akhirnya nyalain TV. Eh, ada Arctic Monkey di MTV Live. Lumayan. Panggungnya gede, acara outdoor. Kaya standar Glastonbury. Ternyata habis Arctic Monkey satu jam, ada Muse masih di MTV Live.

Whoa, tempatnya di gedung teater tua yang (hanya) panggungnya disulap jadi modern dengan background screen LCD plus lampu warna-warni. Puas, puas sekali. Penampilan panggung mereka memang nggak ada matinya, walaupun bertiga tapi nggak ada sedikitpun bagian yang terasa kosong. Angle-angle yang diambil kameramennya bagus lagi. Kalo saya jadi editornya acara itu saya udah merasa di surga dapet footage bagus-bagus kaya gitu.

* * *

Dan saya sedang suka-sukanya juga sama lagu Starlight-nya Muse plus videoklipnya (sampai bela-belain download videoklip dari internet). Lagunya sedih. Matthew Bellamy selalu bisa nyari nada-nada falsetto yang bagus dan masukin emosinya ke lagu. Saya ikut sedih waktu saya dengerin lagunya sambil memejamkan mata.

Video klipnya bikin saya tambah depressed. Sepi terasa, kesenduan merajalela. Apalagi adegan pas malam-malam dan mereka dishoot dengan fill in cahaya merah kelap-kelip dari kembang api.



Seperti itu. Dan ini..




Dasar DOP keparat, gambar-gambarnya bagus semua.

* * *

Dasar Peter Pan, videoklipnya bagus-bagus semua. Tapi saya suka dengan klip Bila Aku Jatuh Cinta-nya Nidji. Gerakan slow motion, setting yang perfect dengan tone-tone klasik, ambience coklat (atau kuning ya?) yang menyelimuti klip dari awal sampai akhir, dan lengkungan di sudut frame itu membuat perfect. Kesannya klasik sekali.

Oh, betapa saya ingin membuat video klip seperti itu.

* * *

Oh ya. Klip Utopia - Homogenic bikin saya penasaran juga: berapa liter cat yang ditumpahkan dan apa yang terjadi kemudian ke tanah, kolam, dan pohon yang ditumpahin cat itu. Tapi pemilihan warna catnya bagus. Bagus, bagus...

* * *

Enaknya nongkrongin MTV tengah malam: banyak video klip band lokal: hampir semua! Jadi tau perkembangan dunia klip musik dalam negeri...

<< Home






November 08, 2006

kalau jodoh tak lari kemana..

 

Sore-sore di LFM. Duduk. Ngobrol. Eh, ada cakru yang lumayan lucu itu lagi ngobrol sama cakru-cakru yang lain. Saya mau sekedar menegur dia, tapi itu berarti saya harus berdiri, jalan kesana beberapa meter, lalu kembali duduk lagi. Dan anak-anak LFM tinggal ribut ciah cieh.

Nggak jadi deh. Jadinya duduk aja sambil menatap dari kejauhan. Kayanya dia ngeliatin juga sih. Liat-liatan deh jadinya. Atau saya yang ge-er ya?

Eh, nggak taunya pas pulang malam2 kita naik di angkot yang sama: rumahnya searah. Jauh lagi, jadi bisa ngobrol lama.
Memang kalau jodoh tak lari kemana..

<< Home






November 07, 2006

250 kilometer in one night

 

Senin malam:
19.00 di Bandung
21.00 di Pondok Gede
21.15 makan di McD Tamini
22.30 hangout di J.Co Citos
23.20 masuk tol meninggalkan Jakarta
23.40 mampir ke Starbucks yang di tol, mau ngopi lagi tapi sayangnya sudah tutup
01.15 keluar tol Pasteur
01.20 di Bandung lagi.

Kalau dipikir-pikir, ngapain juga jauh2 ke Jakarta pulang-pergi dalam sehari semalam kalau ujung-ujungnya disana makan McD lagi, J.Co lagi, dan juga Starbucks lagi?
Iseng.
Yeah. Hit me anywhere except on the face.

Tapi saya benar-benar kangen dengan Cipularang di sore hari. Sayangnya sekarang pergi malam dan pulang masih malam juga, jadi tidak kelihatan apa-apa. Menurut saya, Cipularang adalah jalan tol dengan pemandangan bagus, apalagi menjelang matahari terbenam dengan cahaya kuning senja yang temaram...

* * *

Obrolan di McD Tamini:
"Burger + french fries + cola = cara bunuh diri pelan-pelan.."
(people laughing)
"Oh, tambah satu lagi tuh biar makin mantep.."
"Apaan?"
"Rokok..."

* * *

Di sela-sela orang tertawa, saya melihat bulan purnama di langit Jakarta. Jakarta yang saya benci, Jakarta yang kamu cinta. Saya benci karena langitnya yang kelabu, kamu cinta karena terbiasa sedari dulu.
Biasanya saya langsung akan menghubungi kamu atau sekadar mengirim sms yang kurang lebih berbunyi,
"...semoga purnama yang kucinta menyinari Jakartamu yang kelam,
agar jangan pernah kamu tenggelam.."

Sejenak saya melihat hp yang tergenggam di tangan, menarik nafas, menghela nafas, memandanginya sebentar lagi, mengedip-ngedipkan mata, mengucapkan kata-kata tak bernada tanpa suara, lalu memandang penuh tanya kepada purnama, hingga akhirnya logika menyuruh tangan saya meletakkan hp itu dan membiarkannya tergeletak terbalik di atas meja.

...masa lalu biarlah berlalu. Ingin rasanya saya menelpon kamu, but in truth, I'm lost for words if I hear your voice. It recalls me the old memories, it gives me the chill, walaupun udara Jakarta seperti biasa panas malam itu.
Ya, tanpa saya sadari saya merindukan kamu, Ndahz...





PS.1: Sms itu akhirnya terkirim pukul tiga tiga empat dini hari keesokan harinya ketika saya sudah kembali di Bandung dan masih belum bisa tidur karena terlalu banyak minum kopi hari itu..
PS.2: Diiringi lagu Chocolate-nya Snow Patrol, perasaan saya makin mellow...

<< Home






November 05, 2006

Dari khotbah yang saya dengarkan di gereja:
"... dan Tuhan tidak peduli IP Saudara berapa."
Hmm,
bisa nggak ya jadi jawaban waktu Mama nanyain IP?

<< Home






things constantly change, it's you who not noticing...

 

Senang rasanya bertemu teman-teman lama.
Nostalgia.
Semalam saya merasakan kembali masa-masa 4 tahun yang lalu, waktu saya masih cakru yang sedang berjuang mau masuk unit film. Dan mereka adalah kru-kru tua yang seenaknya minta dibikinin kopi..

"Tapi kopinya nggak ada gitu.. (ngeles)"
"Nih duit (hasil patungan lima menit), beli kopinya sana.."
"Gulanya juga habis.. (keukeuh ngeles)"
"Jangan lupa beli gulanya sekalian!"

Sekarang, kami - saya dan teman-teman seangkatan - yang baru datang ke rumah salah satu alumni dalam rangka acara halal-bihalal, langsung disuruh bikin sirup. Walaupun kami sudah kru, tapi mereka sudah jadi alumni. Tetap saja statusnya lebih tinggi. Semua joke dan sindir-sindiran tentang masa lalu pun muncul kembali, tentang si ini yang pernah ngecengin itulah, tentang itu yang dikerjainlah, blablabla. Semuanya ketawa, saya juga.

Senang sekali saya bisa bertemu dan mendengarkan joke mereka lagi. Dasar alumni LFM gila garing semua. Beberapa di antara mereka jadi scriptwriter Extravaganza malah. Sudah kebayang kan joke sehari-hari kita segaring apa?

Hah.
Gila.
Ini ya rasanya nostalgia? Padahal baru 4 tahun. Gimana perasaan orang-orang angkatan 70an di acara-acara temu alumni itu ya?

<< Home