January 31, 2005

Untitled

 

Musik keras menghentak, terus melaju tanpa peduli dengan orang-orang yang mencoba berbicara.
Bau alkohol semerbak, terus menggerayangi hidung-hidung semua orang yang ada di situ.
Asap rokok mendesak, mendesak setiap udara bening tak kasat mata yang ada di setiap sudut ruangan dan mengalahkannya.


Dan aku duduk di salah satu meja ini, dengan orang-orang asing yang tidak kukenali. Mereka mabuk. Aku setengah mabuk. Hampir mabuk, tapi tidak terlalu mabuk. Bau alkohol tercium parah dari mulut mereka. Bau alkohol tercium juga dari mulutku, walaupun tidak separah mereka.

Musik dance keluar dari speaker-speaker entah berapa ratus watt dayanya. Orang-orang ini semakin menggila. Dua orang wanita naik ke atas meja, meliukkan tarian erotis dengan badannya yang semampai, para lelaki dan wanita lainnya berteriak, lalu satu lelaki naik lagi ke atas meja, lalu lelaki itu menari di sana diapit oleh dua wanita itu, dan seterusnya, dan seterusnya.

Meja ini tiba-tiba menjadi ramai. Tapi aku tidak tertarik ikut-ikutan berteriak seperti mereka. Kepalaku sudah jenuh. Kejenuhan yang sedang mencapai taraf stabil. Tidak bisa dikurangi dan sudah cukup untuk ditambah.

Aku melihat botol-botol di depanku. Permainan aneh yang sedang mereka jalankan disini. Kau boleh saja hanya melihat botol sprite, sprite, dan sprite, tapi entah di dalamnya berisikan cairan apa. Yang kau tahu hanya begitu meminumnya kau akan merasa sedikit pahit di tenggorokan, tapi tetap kau menenggaknya.
Jadinya kuraih sebotol sprite berisi entah apa itu, lalu kutenggak sampai habis. Ugh, 35% alkohol, sial.
Malam makin larut, tapi orang-orang ini seperti tidak ada matinya. Aku hanya memandang mereka saja dari kursiku duduk. Tidak ada yang menarik kecuali tubuh mereka. Hanya fisik. Hanya karena mereka cantik. Hanya karena betis mereka mulus. Hanya karena bibir mereka siap memberikan semua kenikmatan yang ada di dunia. Begitu pun dengan para lelakinya. Padahal di balik semua balutan make-up itu, semuanya hanyalah pelacur diri dengan otak entah sekecil apa.

Kulayangkan pandangku. Di seberang meja ini aku melihatnya, seorang wanita duduk melihatku. Ia tidak seperti yang lain yang sedang berdiri berjoget di atas meja.

Tidak. Ia hanya duduk melihatku, lalu meminum kembali minumannya, vodka kurasa. Lalu melihatku kembali.

Aku mabukkah? Hmm... tidak juga sebenarnya. Aku mencoba mencubit pahaku, sakit, berarti aku masih sadar.

Kunyalakan rokokku. Kuhisap sambil menikmati dirinya. Dia cantik. Tapi bukan itu hal yang menarik dari dirinya. Aku merasa diriku sama dengan dia. Kita hanyalah jiwa-jiwa yang terperangkap dalam tempat ini, jiwa-jiwa yang merasa sepi di tengah ramai, jiwa-jiwa yang mencoba menikmati setiap keluh dalam sepinya.

Tiada yang pernah kuingat lagi selain matanya itu. Tidak juga, aku masih bisa mencium bau parfum yang keluar dari tubuhnya, setiap pori-pori kulitnya. Sangat berbeda dari setiap parfum wanita yang pernah kutemui. Sangat.. lembut, dewasa, anggun, dengan segala keindahan yang tidak bisa terucapkan.

Bahkan pori-pori kulitku masih bergetar begitu aku mengingat harum parfumnya. Melupakanku pada semua parfum wanita yang pernah aku kenal begitu saja, seperti dengan mudahnya bibirnya menghapus kenangan di bibirku akan bibirmu.

<< Home






January 29, 2005

Mencintai Berarti ...Melepaskan

 



Sekejap aku hanya menggigit bibirku, merasakan hatiku yang keropos dilumat rayap kepedihan. Lalu sedikit demi sedikit jarinya mulai bergerak. Lambat. Perlahan. Ia membelai-belai pipi perempuan itu yang bersih dengan penuh cinta kasih. Air matanya merebak seperti embun membasahi pagi.

Aku mencintai kamu dengan tulus. Mencintai kamu tanpa perlu tahu apakah kamu mencintai aku, atau apakah kamu menganggap aku ada dalam kehidupanmu.
Aku ingin mencinta. Tidak peduli apakah kamu balas mencinta atau tidak.
Aku hanya ingin melihat kamu bahagia.

Dan ketika aku melihatmu lagi kini, aku melihat kebahagiaan ada di kedua bola matamu yang berwarna cokelat tua itu.
...walaupun aku tahu itu bukan karena cintaku.
...walaupun aku tahu kamu tidak memberi cinta kepadaku.
Tapi aku mencintaimu tulus, tanpa perlu kau balik mencintai aku.
Aku hanya ingin melihat kamu bahagia, agar aku juga bahagia melihatmu.

Kalau kau mengerti arti cinta sesungguhnya, desah lelaki itu terisak, seharusnya kau tak perlu bertanya lagi. Bukankah cinta adalah taman yang luas, tempat kita bebas berlari dan menjadi diri sendiri? Cinta merelakan dan melepaskan...
... cinta bersatu dalam perpisahan.

Dan ketika aku tahu.... Lelaki itu berhenti sejenak, mengambil nafas, lalu melanjutkan kata-katanya lagi.
Dan ketika aku tahu kamu lebih bahagia dengannya... aku rela melepaskanmu pergi. Mungkin kebahagiaan itulah yang kamu cari, dan kamu mendapatkan itu darinya, bukan dari aku.

Aku bahagia jika kau bahagia, bisik lelaki itu memaksakan senyum. Seperti matahari yang bersinar ditelan mendung.

Kalau kau bahagia bersama dia, aku rela kau berpaling padanya...



[terima kasih kepada Maroon 5 dengan “She Will Be Loved”-nya yang mau menambah-tambah suasana mellow di kamar ketika aku sedang menulis kisah ini
Sebagian paragraf dikutip dari novel “Lelaki Terindah” oleh Andrei Aksana]




<< Home






January 27, 2005

Old Willow Tree

 

Lubang yang kamu gali ini terlalu dalam. Ketika aku jatuh ke dalamnya, sakitnya sangat menyiksa. Kepalaku terantuk batu di dasarnya dan tidak henti-hentinya mengeluarkan darah yang langsung meresap ke dalam tanah. Merah sekarang seluruh dasarnya.
Hampir sedikit lagi aku keluar tapi aku jatuh terperosok lagi. Lututku yang berdarah kali ini, membuatku makin susah memanjat ke atas.
Sial, lubang ini jauh lebih dalam dari yang aku kira. Keluar dari lubang ini jauh lebih sulit dari yang aku duga.
Aku capek, perlu istirahat sejenak.
Mengumpulkan tenaga kembali sebanyak-banyaknya.

* * *

...tinggal sedikit lagi...
Dan ...ah, leganya.
Sekarang aku sudah berhasil keluar dari lubang sialan ini.
Aku sudah bisa menikmati pemandangan di atas sini, ah indahnya.
Tapi tenagaku lebih jauh terkuras.
Aku memandang ke sekeliling, hanya terdapat hamparan rumput dan sebatang pohon willow tua. Gidds tidak ada di sini. Hanya aku sendiri.
Aku memutuskan berjalan ke arah pohon itu, pelan dan limbung. Aku berhasil sampai ke pohon itu. Detik berikutnya.. aku jatuh. Badanku tak kuat lagi.
Di bawah naungan bayangan pohon willow tua aku berbaring. Sambil tetap mencoba memandang sekeliling.
Dan aku melihatmu di kejauhan. Kau sedang mencoba terbang dengan bantuan sayapnya.
[Kamu tersenyum dengannya]
Lalu menoleh ke arahku dan berkata,
“Terbanglah engkau dengan sayap lain agar kau bahagia.”
[Bahkan kamu tersenyum ketika mengatakan ini]

Terdiam, aku lalu tersenyum.
Tetap aku berbaring di alas rumput ini.
Tidak sekarang, aku masih terlalu letih. Aku perlu menguatkan sayapku hingga dapat terkembang lagi. Biarlah kau saja yang merasakan indahnya pemandangan ini dari atas sana.
Kukeluarkan sebatang rokok dari sakuku. Kunyalakan, hisap dalam-dalam, hembuskan pelan-pelan.
Hanya itu dulu yang bisa kulakukan, saat ini.
...Aku akan menikmati sebentar entah beberapa batang rokok yang terbakar. Aku akan melihat-lihat dulu ke atas dari bawah sini. Melihatmu bahagia terbang tinggi bersamanya.
Dan nanti jika sayapku tidak terasa perih, semua lukanya sudah menutup kembali. aku akan mencoba terbang lagi dari sini. Mungkin dengan sayapku sendiri. Mungkin aku akan meminjam sayap orang lain dan terbang bersama dengannya.
Tapi sekarang, biarkan aku menikmati dulu sebatang rokok ini.

<< Home






Sakit, pt.2

 



Sabtu, bulan Januari tanggal yang kedua puluh empat,
Kurang lebih pukul sebelas malam


...Hooeek!!
Itu muntahku yang ketiga hari ini. Ketujuh dalam tiga hari ini.
Tidak nafsu makan, dipaksakan makan, malah jadinya langsung dimuntahkan lagi.
Kepalaku masih berasa pening, badanku agak limbung, seluruh berat tubuhku ditopang oleh kedua tangan yang berpegang erat pada pinggir wastafel.
Aku menunduk, membasahi muka dengan sekali dua kali bilas air.
Lalu kuperhatikan wajahku di cermin wastafel.
Hmm, jelas sekali aku mengurus, entah... enam kilo lebih?
Masalah-masalah sialan itu sudah keterlaluan. Mengganggu nafsu makan saja. Sekarang hanya kuat makan satu kali sehari. Itupun nasinya cukup setengah saja. Kalau terlalu banyak gimana?
Ya itu tadi, muntah lagi.
Huff... badanku capek sekali. Kurang tidur belakangan ini. Masalah-masalah sialan itu juga sudah menyita banyak waktu tidurku. Aku jadi tidak bisa tidur.
Aku keluar dari kamar mandi.

Kamu kenapa?
Papa rupanya terbangun. Dia sudah tidur dari dua jam yang lalu. Dia menoleh ke arahku, memperhatikan setiap langkah gontaiku.
...nggak apa-apa, Pa. Tadi mules aja. Kayanya salah makan mungkin...
Berbohong. Bukan cara yang saya suka, tapi entah kenapa saya berbohong kali ini. Katanya setiap sepuluh menit seseorang berbicara, dia akan mengatakan kebohongan selama dua menit. Atau malah lebih parah, kejujuran selama dua menit saja? Saya pernah mengenal orang-orang yang separah itu sih.
Papa diam, tidak berkata apa-apa lagi. Kamar ini sepi, orang di tempat tidur sebelah sudah sembuh, jadi hanya Papa yang dirawat di kamar ini sekarang. Hanya aku yang menginap di sini.
Kapan kamu masuk kuliah lagi? Papa angkat suara kembali.
...awal Februari.
Terus Papa diam lagi.
Udahlah, Papa tidur aja lagi, ngapain juga bangun jam segini..
Papa menggeliat sedikit, mencoba untuk tidur kembali.

Aku duduk lagi di kursi di samping kaki Papa yang terbungkus selimut. Ah, aku pusing, aku capek, aku mengantuk. Terlalu banyak mengeluh, memang. Apa yang bisa aku lakukan sekarang selain mengeluh? Kepalaku pusing tidak bisa tidur.
Tidak kuat, mataku berat. Kepalaku jatuh di atas selimut. Jatuh begitu saja. Di sebelah kaki Papa.
Mimpiku aneh, absurd, abstrak, aku susah jelaskan. Mimpi teraneh yang pernah aku lihat. Semua hal berkelebat, tapi dalam sentuhan cat air.
Aku terbangun sebentar, membalas sms dan menerima telepon, sepertinya. Atau aku hanya bermimpi? Tapi ketika aku (merasa) tidur kembali, mimpi absurd itu terjadi lagi.
Yang penting aku bisa tidur malam ini, masa bodoh. Aku tidur nyenyak.
Hingga pagi. Aku terbangun jam enam pagi dengan sakit leher yang sungguh menyiksa.



<< Home






January 24, 2005

Dan Turunlah, Hujan

 



Lelaki itu mempercepat langkahnya. Perempuan itu juga. Hujan rintik makin deras mengenai kepala mereka.
Lelaki itu membuka telapak tangan kirinya di atas kepala si perempuan, mencoba melindunginya dari setiap tetesan hujan yang akan hinggap di kepalanya.

Tindakan sia-sia...
Sia-sia? Tidak juga. Ia hanya berusaha melindungi perempuan itu saja.
Hmm... terus bagaimana?

Jalanan sepi mobil. Mereka berdua menyeberang.
Tangan kamu, berat, kata si perempuan sambil berjalan.
Oh, maaf, sahut lelaki yang menekan tangannya ke kepala si perempuan. Sekarang tangannya diangkat sedikit dari kepala si perempuan sambil tetap dibuka lebar-lebar.

Mereka masih berjalan. Hujan tidak lagi rintik dan angin tidak lagi hangat.

Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir mereka yang kelu, semakin kelu pada setiap langkah yang terjejak. Mungkin mereka mencoba memikirkan kata-kata yang indah di kepala mereka. Atau mungkin justru mereka menikmati semua perhatian yang ada pada saat mereka tidak berkata-kata. Mungkin mereka mencoba merekam semua gerak-gerik yang ada daripada kata-kata.

Atau mungkin mereka memang pemalu! Haha.
Aku memandangnya sebentar, mencoba menebak apa maksud tawanya itu.
Tidak, mereka sudah terlalu mengenal satu sama lain, buat apa malu-malu lagi?
Ya sudah.
Baiklah..

Dan setelah langkah yang kesekian ratus kesekian puluh, mereka tiba di depan sebuah pintu.
Mereka meneduhkan diri sejenak dari hujan yang membasahi tubuh mereka. Lelaki itu berdiri menghadap si perempuan. Perempuan itu berdiri menghadap si lelaki.
Kini, mereka saling berhadap-hadapan.
Lalu mereka saling menatap mata-mata yang berwarna cokelat kehitaman itu. Ah, betapa indahnya dulu mata itu, mata yang pernah saling membisik-bisikkan kata cinta dari taman nirwana. Mata yang pernah memercik-mercik api asmara yang tetap menyala di dalam gelap yang paling kelam.
Namun kini tidak ada apa-apa di mata-mata cokelat kehitaman milik mereka.
Semua kenangan telah terkubur dalam-dalam di taman impian.

...kasihan sekali mereka.
...

Tetap mereka diam. Syahdu, mereka sendu. Sejuta keindahan yang ada di dunia inipun tidak akan dapat membuat mereka tertawa lagi bersama.
Lama mereka bertatapan, akhirnya mereka berpelukan. Sempat juga mereka berciuman, berat untuk dilepaskan meski akhirnya semua harus terenyahkan.
Pelukan itu harus terlepas. Bahkan lelaki itu pernah berjanji dia tidak akan melepaskan pelukan itu.

...tapi harus ia lepas, bukan?
Iya, dan stop menyela saya bercerita. Kalau kamu begi..
Okay, okay, lanjutkan saja ceritamu.
...

Perempuan itu membuka pintu, kakinya melangkah ke dalam. Ia berbalik. Lelaki itu masih berdiri di depan pintu, memandanginya semua gerak-geriknya agar ia masih bisa mengingat semua itu bahkan pada saat ia menutup mata.
Perempuan itu tersenyum sedih. Lelaki itu membalas senyumnya dengan menyedihkan pula.

Jadi apakah lelaki itu akan pergi?
Saya bilang, stop menyela saya bercerita!
Hey, okay, tidak perlu marah sebegitunya dong.
..nah,

Setelah mengingat bibir yang pernah mencium hatinya itu, lelaki itu berbalik dan melangkah pergi. Terseok-seok ia meninggalkan rumah itu. Langkahnya terseok-seok serasa kakinya dirantai ke batu.
Hujan semakin deras. Rambutnya sudah basah terkulai lemas. Seluruh pakaiannya malah.
Berjalan ia hingga ke pinggir jalan. Ia berhenti, menoleh ke belakang. Perempuan itu masih ada di situ, berdiri di pintu itu memandangi ia pergi. Ia tersenyum sambil melambaikan tangannya seperti berkata, Selamat Tinggal.
Namun lelaki itu seperti tidak melihatnya. Ia hanya melihat pintu itu sudah tertutup. Namun ia masih bisa melihat senyum perempuan itu. Ia tersenyum sejenak.
Lalu ia berbalik pergi, melangkah menjauhi tempat itu yang mungkin tidak pernah ia datangi lagi. Mungkin.
Perempuan itu memandanginya dari jauh, entah memikirkan apa hanya ia yang tahu. Lalu ia menutup pintu itu.
Dan lelaki itu terus berjalan di bawah hujan. Dirasakannya hujan turun makin deras. Dirasakannya angin berhembus makin dingin. Dirasakannya suara dedaunan yang sudah mulai kuning rontok satu persatu ditiup angin.
Tapi ia tidak peduli dengan itu semua. Ia hanya ingin berjalan melewati hujan, melangkah kemana kakinya mau melangkah, dan berharap juga... berharap petir menyambarnya detik itu juga.

Tapi tidak ada satu petir pun menyambarnya. Yang ia sebut Tuhan-nya masih mau melindunginya. Jadinya ia terus saja melangkah. Entah kemana.

...begitulah kisahnya.
Hmmm, menarik, menarik sekali malah!. Bagaimana kalau kita jadikan film saja?
...film?
Iya, judulnya mungkin “Ratapan Cinta”, atau “Kisah Cinta di Minggu Sore”, atau..
..daripada itu masih lebih baik judulnya “Kesambar Petir” deh.
“Kesambar Petir”? Ide bagus! Tapi biar lebih menjual tetap harus ada kata “cinta”-nya! Kamu tidak bisa menikmati apa-apa sekarang kalau tidak ada cinta di zaman sekarang ini!
...jadi?
Kita juduli: “Cinta Kesambar Petir!”
Aku menepuk jidatku. Harus separah itukah nominasi judul-judulnya?
Jadi bagaimana? Kalau kamu sebagai pencerita punya ide juga boleh kok.
Mmmm, bagaimana kalau “Hujan”? Pokoknya judulnya harus itu!
Lho? Kok “Hujan”? Memang ada apa dengan hujan?
Tidak ada apa-apa kok. Saya hanya suka kata itu. Seperti sukanya saya bermain hujan.

Kamu yakin?
Ya.
Baiklah kalau begitu.
Ia mengambil kertas kosong, mengeluarkan pena hitamnya lalu menulis kata: HUJAN
lalu memasukkan pena dan kertas itu juga ke dalam sakunya kemejanya.
Oh ya, boleh saya menanyakan satu pertanyaan yang terus mengganggu saya dari tadi?
Oh, silakan. Boleh saja.
Apakah ini pengalaman Anda? Sepertinya Anda sangat tersentuh ketika menceritakan hal ini.
Aku hanya tersenyum.
Saya? Bukan. Saya pernah mendengar cerita ini dari seorang teman. Saya hanya menyukainya, itu saja.
Oh, terima kasih atas jawabannya. Bolehkan saya menanyakan satu pertanyaan lagi?
Ya.
Mengapa ranting pohon itu tertancap di kepala Anda?
Oh, ini bukan ranting pohon. Ini tanduk. Saya sudah bilang dari pertama kalau saya hanyalah seekor rusa kutub.
Oh, maaf saya lupa hal itu. Kalau begitu saya permisi dulu.
Tangannya menggantung mengajakku bersalaman. Aku menyalaminya jadi. Aneh rasanya. Kaki depanku memang tidak cocok untuk kegiatan salaman-menyalaman ini.
Oh ya, ini kartu nama saya, kalau ada cerita yang bagus lagi silakan hubungi saja. Semuanya, nama, email, dan nomor hp saya ada disitu.
Oh, baiklah.
..dan nama anda?
...saya tidak bernama, tapi teman saya itu memanggil saya...
Gidds.




<< Home






January 23, 2005

Andai saja otak saya sama seperti komputer pentium 4 dengan double processor- motherboard ini.
Kalau pusing tinggal di-refresh.
Kalau jenuh tinggal install program baru. Install game juga boleh.
Kalau nge-hang, tinggal di restart.
Kalau ada virus tinggal di-shut down dulu terus diformat ulang.
Dan saya akan segar bugar kembali, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Paling kehilangan data di drive C:.
Untung saya tidak pernah menyimpan data di drive C:, jadi tidak apa-apa.

<< Home






January 21, 2005

Sakit.

 

Tadi pagi Papa check-up ke rumah sakit. Benjolan di bawah telinga kirinya yang tadinya kecil seperti gara-gara orang kejeduk pintu, kini sudah membesar dan membengkak sampai ke rahang luarnya. Tadinya dikira tidak apa-apa, ternyata berakhir begini. Jadinya Mama mengantar Papa ke rumah sakit untuk periksa.
Akhirnya Papa harus diopname, entah sampai beberapa hari.
Penyakitnya? Entah, kata dokter sih ada virus yang pokoknya-bagaimana-pun-caranya bisa membuat itu benjol sampai jadi bengkak.
Padahal dokter botak itu sama sekali tidak melakukan apa, hanya lihat -> pikir -> virus! Memang sebegitu canggihnya ya dokter sekarang? Sudah nggak perlu pakai stetoskop atau termometer lagi?
Saya kira-kira sih itu tumor atau kanker. Entahlah mana yang benar.

Rumah sakit brengsek itu juga belum mau kasih tahu berapa lama Papa harus menginap disana, tunggu sampai penyakitnya sudah mendingan kata mereka.
Ya iya, tapi sampai kapan?
Makin lama menginap berarti makin banyak biaya yang harus dibayar, bukan?

Sial. Tabungan saya sudah habis. Entah tinggal berapa bulan lagi tabungan Papa dan Mama juga habis.
Uang mereka masih cukup untuk bisa “menyewa” kamar tidur kelas I, yang isi satu kamar dibagi buat dua pasien. Tidak terlalu privat tapi kamarnya lebih bersih dan lega daripada kamar kelas II atau kelas yang di bawah lagi.

Tapi lagi setelah itu bagaimana? Saya ragu kami bisa makan dengan “enak” lagi. Ya, minimal makan tiga kali seharilah. Entah. Entah. Entah...

Apalagi saya akan terserang tipus lagi bulan Juni nanti. Biasa, penyakit musiman. Semenjak pindah ke Bandung, setiap tahun selalu begitu, dan akhirnya diopname (saya menamakannya virus bulan Juni). Mungkin setiap bulan Juni Bandung mengeluarkan aura yang sangat positif dan sangat bertentangan dengan aura negatif saya. Kata Gidds, Bandung sentimen aja sama lo kali. Kesentimannya selalu membuat saya kalah dan akhirnya tinggal muntah-muntah. Ujung-ujungnya diopname lagi.
Tinggal duit saja yang habis bayar “sewa kamar” gara-gara diopname seminggu.

Yah yah yah
duit duit du it
habis bis bis...
Sial. Betul memang apa kata orang-orang yang pernah miskin dan atau yang masih miskin.
Biar miskin yang penting tidak sakit, biar tidak tambah miskin.

<< Home






January 20, 2005

Badu, Badu...

 


... Baiklah.
Saya juga senang kok.
Berarti memang perlu.
Ayo, ayo! Ambil gitar kopongmu, mari berdendang "Tender", falsetto ala Albarn:
“Lord, I need to find, someone who can heal my mind…”


"timbuktu redux, ch.1"
oleh badu (dengan b kecil) di http://budibadabadu.blogspot.com

<< Home






Kehilangan!

 


Ketika melihat-lihat blog ini lagi, saya jadi bertanya-tanya...

KEMANA SEMUA POSTING-BULAN-SEPTEMBER-DAN-OKTOBER SAYA?

Apa yang terjadi? Apakah saya sudah mulai berhibernasi tanpa saya sadari sendiri?


<< Home






January 17, 2005

Kebohongan #1

 

“Ah, perempuanku,mengapa kau bisa melakukan hal sekejam ini?”
Lelaki itu sangat kecewa. Perempuannya telah tega membohongi dia, mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan si lelaki kepadanya.

Perempuannya yang semula diam, balik menyerang,
“Salah sendiri kenapa kamu tidak peduli ada orang lain yang mendekati aku!”

Lelaki itu tersinggung. Perempuannya sudah tidak merasa bersalah lagi sekarang tapi malah balik menyalahkannya.
“Tidak peduli? Siapa bilang aku tidak peduli? Aku sudah pernah tanya hal ini ke kamu, kamu bilang tidak ada apa-apa yang terjadi di antara kalian berdua! Kamu anggap saya paranoid, saya aneh karena berpikir macam-macamlah. Kamu malah mengatakan ketika itu kalau kamu sayangnya cuma aku! Kamu bilang seperti itu, dan aku mempercayai kamu.”

Perempuan itu terdiam, lalu mengembangkan senyum sinisnya, lalu berkata lagi,
“Salah sendiri kenapa kamu percaya?! Kamu itu bodoh ya?? Nggak ngerti kalau perempuan bilang iya artinya nggak dan kalau bilang nggak artinya iya?? Kamu itu bodoh ya??” Nada bicara perempuannya jelas-jelas menunjukkan kalau ia lebih memilih merasa marah daripada harus merasa bersalah.

Sekejap lelaki itu terpaku mendengar perkataan perempuannya. Dia tidak percaya apa yang baru ia dengar. Perempuan itu sekarang benar-benar bukan perempuannya yang pernah ia kenal.

Bahkan kamu malah sekarang menyalahkan saya. Salah sendiri kenapa percaya? Alasan macam apa itu.
“Kamu malah menyalahkan saya sekarang? Alasan macam apa itu? Saya sudah pernah bilang ke kamu kalau saya mau kamu jujur. Kalau kamu sudah tidak merasa sayang lagi, ya bilang saja. Kamu sendiri sudah mengiyakan ini dulu, kamu sudah berjanji akan jujur.
Tapi sekarang kamu malah berkata seperti ini dan menyalahkan saya?”

Tidak ada gunanya lelaki itu berkeluh-kesah mengingatkan prempuannya akan janjinya. Perempuannya lebih memilih marah daripada merasa bersalah.

Tidak ada gunanya lagi.



<< Home






Kebohongan #2

 

“Kamu hanya memikirkan kenapa saya menampar kamu? Kamu lebih memikirkan tamparan itu daripada memikirkan apa yang telah kamu lakukan ke saya? Seperti kamu menyakiti saya dengan berbohong mengenai lelaki lain?
“Kamu tidak pernah memikirkan itu kan? Menurut kamu sekarang saya salah dan kamu benar karena saya menampar kamu? Saya mengaku cara saya salah. Saya minta maaf atas tamparan itu. Dan kamu itu seharusnya berpikir saya tidak akan menampar kamu kalau kamu tidak membohongi saya selama ini.”

Perempuannya memandang sinis kepada lelakinya, lalu berkata,
“Tetap sih, tidak ada pembenaran kamu bisa menampar pacar kamu seenaknya walaupun pacar kamu selingkuh sama orang lain..”

Lelaki itu segera membalas,
“Pernah tidak saya menampar kamu selama ini? TIDAK! Tidak pernah terpikir olehmu kalau misalnya saya menampar kamu berarti kamu sudah jauh keterlaluan? Tidak! Kamu tidak memikirkan itu! Kamu tidak pernah memikirkan kalau kamu sudah menyakiti saya separah itu!”

“Terus kenapa? Kalau saya membohongi papa saya dan saya menyakiti dia, dia akan memaafkan saya dan tidak akan menampar saya sih.” Sebuah pembenaran meluncur lagi dari mulut perempuannya, mulut yang pernah lelaki itu cium, namun sekarang penuh dengan racun berbisa.

“Maaf kalau saya tidak pernah sebaik ayah kamu. Jika saya memberikan kepercayaan kepada ayah saya, dia juga tidak akan mengkhianati saya, dia tidak akan menikam saya dari belakang.”

Lalu perempuannya menyidir sang lelaki lagi.
“Haha, ya sudah. Kamu jangan melakukan hal itu ke pacar kamu nanti ya. Jangan jadi lelaki kasar yang suka menampar wanita ya...”

“Tidaklah, saya tidak akan berpikir seperti itu. Kamu jangan menganggap semua wanita itu sama seperti kamu, kasihan mereka disamakan dengan wanita pembohong seperti kamu..” Lelaki itu balik menyindir.

Perempuan itu diam.

Lelaki itu juga hanya diam setelah itu.
Ah, andai saja kamu tidak membohongi saya. Kamu sudah saling flirting dengan lelaki lain ketika kamu masih bersama saya. Kamu tidak memandang saya lagi saat itu. Saya tidak pernah menyukai orang ketiga. Saya sakit hati karena kamu menikam saya dari belakang, dan kamu juga menyuruh lelaki itu menikam saya juga.

Ah ah, betapa malangnya nasib si lelaki.


<< Home






January 09, 2005

CINTA? tai kucing!

 

CINTA?
tai kucing!

Dipersembahkan untuk:
Siapa saja yang mengatasnamakan Cinta...

.dari halaman kedua kumpulan cerpen
"Cinta? tai kucing!"
oleh Maroeli Simbolon.

<< Home






Surat Untuk Teman

 

Temanku, bercinta itu memang ada saat-saat menyakitkan
Saya juga sedang mengalami masa paling menyakitkan dalam hidup saya
karena cinta.
Tapi ah, jika kamu mau melihat masa-masa dimana kamu terbuai
karena pesonanya,
masakan kamu tidak ingin menikmatinya?
Tapi ah, saya lagi putus cinta. Dunia jadi terasa tidak indah seperti dulu.
Apalagi melihat dia lebih memilih lelaki lain daripada saya.
Ah, ah.
Apa yang lebih menyedihkan daripada seorang lelaki
yang begitu mencintai perempuannya, dunianya,
tapi malahan perempuan itu menikam lelakinya,
dan membiarkan lelaki lain menikam lelakinya pula?
Ah, ah, dua tikaman tepat di dada,
hati tepatnya.

Ah, ah, ah,
betapa menyedihkan nasib si lelaki.

<< Home






January 07, 2005

No Need To Argue.

 

"You think I’m the one being paranoid here?
Funny, you can’t even prove just a little bit of that."


<< Home






January 06, 2005

Campaign

 

NO DRUGS!!!
Just enjoy sex, cigarettes, and alcohol...


<< Home






January 03, 2005

What's The Story (Morning Glory) ?

 

Aku memicingkan mata. Sinar matahari menerobos masuk dari balik jendela.
...sudah pagi?
Aku menerawang ke langit-langit. Mataku masih menyesuaikan diri dengan cahaya pagi ini.
Aku menoleh ke kanan, mencoba mencari-cari jam tanganku.
Sudah jam berapa ini?
Kulihat sudah jam sembilan lebih.
Aku menoleh ke arah sebaliknya. Setengah bagian tempat tidur itu sudah kosong, tapi masih belum rapi.
...kemana dia?
Entahlah, dia sudah pergi dari pagi tadi mungkin. Ternyata hanya aku sendiri yang ada di kamar ini.
...atau semalam itu cuma mimpi belaka?
Aku bangun sambil berjalan telanjang ke kamar mandi. Bau alkohol masih saja menyebar dari mulutku. Kuraih moutwash yang ada di sebelah wastafel, lalu berkumur dan menyikat gigiku.
Kuputar kran sehingga keluar airnya, lalu membasuh muka sedikit dengan itu.
...airnya dingin sekali, membuatku bisa merasakan setiap pori-pori kulit mukaku mengejang kedinginan.
Kutatap wajah yang terpantul di cermin besar di depanku. Wajahnya masih setengah basah. Ia telanjang, tidak mengenakan apa-apa. Matanya kosong, entah apa yang ia pikirkan. Aku mencoba menduga-duga.
...ah sudahlah, lebih baik aku bergegas pulang saja.
Aku langsung meraih jam tangan di meja tadi sambil mencari-cari dimana aku membuang pakaianku semalam.
..oh itu dia. Aku melihat lengan panjang kemeja yang menjulur keluar dari balik ranjang. Aku segera mengambilnya. Memakainya. Juga celananya. Lalu sepatuku.
Kuraba-raba saku celanaku. Hp dan dompet masih ada disitu.
Aku segera keluar dan mengunci pintu. Kukembalikan kunci pada resepsionis di bawah dan membayar tagihan kamar.
Aku masuk ke dalam mobilku, menyalakan mesinnya, lalu pergi dari hotel itu.

* * *

Jalanan tidak terlalu macet, hanya padat tapi terus bergerak lambat-lambat.
..hhh, aku paling tidak suka dengan hal seperti ini, walaupun ini masih jauh lebih baik daripada macet sama sekali.
Aku menyandarkan kepalaku di kaca. Lagu Morning Glory-nya Oasis masih terdengar dari radio.
...terlalu berisik untuk pagi ini.
Kumatikan saja radionya.
Mobilku terus berjalan lambat ke selatan. Kapan jalan ini bakal sepi sih?
Aku menengok keluar. Tidak ada yang spesial, sama saja seperti biasanya.
Aku menengadahkan kepala. Hmm, tidak mendung seperti biasanya. Awan putih seputih kapas seputih susu rasa vanilla berarak-arak di langit yang biru. Di langit yang biru... mengingatkankanku pada lagu Pelangi yang sering kunyanyikan dulu.
merah, kuning, hijau, di langit yang biru...
Ya, walaupun tidak ada pelangi saat ini.
Tapi lumayan cerah untuk sebuah pagi.
Membuatku jadi ingin membeli novel baru. Kudengar Seno sudah mengeluarkan satu lagi buku, kalau aku tidak salah dengar. Kalaupun salah, tak apa-apalah. Toh, aku juga bisa membeli yang lain.
Pokoknya aku ingin membeli novel baru. Atau buku. Atau apapun itu. Mumpung sebentar lagi lewat Gramedia.
Mobilku terus berjalan perlahan. Sebentar lagi Gramedia. Tinggal beberapa meter lagi sebelum aku membelokkan mobilku masuk ke tempat parkir.
Setelah beberapa meter tadi, aku membelokkan mobilku mencoba masuk tempat parkir. Gerbangnya tertutup. Tempat parkirnya malahan kosong jika dilihat dari luar begini. Atau jangan-jangan tutup?
...ah sial, sekarang tanggal satu.
Aku tidak jadi membelokkan mobil. Kuarahkan kembali memasuki lalu lintas yang masih saja padat dan masih saja bergerak lambat. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan, sepertinya semua tempat tutup pagi ini. Itu berarti aku akan langsung pulang ke rumah saja.
Sial.
...
Hhh... aku benci tahun baru.

<< Home